Skip to content

Ekosistem Hutan Mangrove Di Pantai Karangsong Indramayu

Maret 26, 2010

Kepustakaan :

Darmadi. 2010. Ekosistem Hutan Mangrove Di Pantai Karangsong Indramayu. http://dhamadharma.wordpress.com/2010/03/26/ekosistem-hutan-mangrove-di-pantai-karangsong-indramayu/

Hutan mangrove di indramayu terbagi menjadi 2 (dua) yaitu hutan mangrove di dalam kawasan hutan (hutan lindung) yang tersebar di 10 Desa yaitu Desa Parean Girang Kecamatan Kandanghaur, Desa Cemara Kecamatan Losarang, Desa Cangkring dan Lamaran Tarung Kecamatan Cantigi, Desa babadan Kecamatan Sindang dan Desa Karanganyar, Pasekan, Pagirikan, Totoran dan Pabeab Ilir Kecamatan Pasekan, sedangkan hutan Mangrove di luar kawasan hutan tersebar di 22 Desa diantaranya yaitu Ujung Gebang Kecamatan Sukra, Desa ilir, Bulak dan Parean Girang Kecamatan Kandanghaur, Desa Cemara Kecamatan Losarang, Desa Cangkring dan Lamaran Tarung Kecamatan Cantigi, Desa Brondong, Karanganyar, Totoran dan Pabeab Ilir Kecamatan Pasekan, Desa Pabean Udik, Karangsong dan Singaraja Kecamatan Indramayu, Desa Benda Kecamatan Karangampel, Desa Juntinyuat Kecamatan Juntinyuat, Desa Tanjakan, Kalianyar, Luwung Gesik, Krangkeng dan Singakerta Kecamatan Krangkeng.

Peta lokasi sebaran mangrove di indramayu (www.hutbunindramayu.blogspot.com)

Foto satelit pantai karangsong indramayu 2 juni 2008 (google earth)

Berikut beberapa gambar ekosistem mangrove pantai karangsong indramayu:

(Documentasi Darmadi, pantai karangsong Indramayu 19 Maret 2010)

Menurut Barnes dan Hughes (1999), mangrove menghasilkan serasah sebanyak 20 ton/ha/tahun dengan produktifitas primer sebesar 0.5-2.4 gram C/m2/hari. Sedangkan Raffaelli dan Hawkins (1996), menyatakan bahwa komunitas mangrove menghasilkan produktifitas primer sebesar 310 gram C/m2/tahun. Sebagian besar dari serasah atau bahan organik yang berada di daerah mangrove tidak langsung dimanfaatkan oleh organisme melainkan akan memasuki jaring-jaring makanan dalam bentuk bahan organik terlarut (Dissolved Organic Matter).

Mann (2000) menyatakan bahwa rata-rata produksi serasah mangrove yang berasal dari daun dan ranting yang gugur mencapai 0,5 – 1,0 kg/m2/tahun. Dari jumlah tersebut sekitar 50% akan hanyut ke luar dari daerah mangrove saat pasang dan terbawa menuju ke ekosistem lamun dan terumbu karang.

Di indramayu sendiri pengembangan hutan mangrove merupakan salah satu upaya penguatan fungsi ekologi dan ekosistem. Pengembangan hutan mangrove diarahkan kepada daerah pertambakan yang bertujuan untuk melestarikan ekosistem seperti plankton sehingga dapat meningkatkan produksi ikan. Penamanan mangrove pada tambak dengan sistem empang parit dan sistem komplangan.

Khususnya di muara pantai karangsong indramayu ini umunya kebanyakan adalah jenisa dari mangrove seperti  Avicennia spp. (A. alba Blume A. germinans L, A. marina Vierh), Bruguiera sp (B. cylindrica (L) Blume, B. gymnorrhiza (L) Lam.) dan Rhizophora sp. (R. apiculata Blume, R. harrisonii Leechman, R. mucronata Lam., R. racemosa G. Meyer, R. mangle L., R. stylosa Griff dan R. xselala (Salvoza) Tomlinson).

Secara umum proses transfer nutrien dari daratan menuju daerah mangrove, lamun dan terumbu karang sangat kompleks dan menarik untuk dipelajari karena menunjukkan adanya hubungan keterkaitan di antara ekosistem yang ada di daerah pesisir. Bahan organik yang dibawa oleh aliran sungai dan serasah mangrove mengalami proses dekomposisi terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai unsur hara. Saat daun mangrove gugur dari pohon dan jatuh di permukaan air, maka dimulailah proses dekomposisi bahan organik. Daun mangrove yang jatuh di air atau lumpur yang becek dan lembab akan membusuk perlahan-lahan akibat proses dekomposisi oleh bakteri dan jamur. Proses dekomposisi ini sangat penting karena mengubah serat daun mangrove yang tidak dapat dicerna menjadi menjadi serat yang lebih mudah dicerna. Serasah mangrove yang sudah membusuk tadi kemudian akan dirobek, dicabik-cabik menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dan dicerna oleh kepiting dan hewan invertebrata lainnya. Potongan-potongan ini dikenal sebagai POM (Particulate Organic Matter). Setelah dicerna, terbentuk partikel organik yang lebih halus dan lebih sederhana dalam bentuk feses (kotoran). Feses ini akan dicerna lebih lanjut oleh organisme pemakan deposit (deposit feeder) menghasilkan feses yang lebih halus lagi dan kemudian dimanfaatkan oleh organisme penyaring makanan (filter feeder).

Gambar diatas merupakan beberapa jenis organisme yang berperan dalam proses dekomposisi dan transfer energi di ekosistem mangrove. Atas: Kepiting (kiri), kerang hijau (tengah) dan Keong mangrove (kanan). Bawah: fitoplankton (kiri), cacing polychaeta (tengah) dan zooplankton (bawah) (Astunatura. Com 2008).

Proses dekomposisi akibat autolisis jaringan mati dan aktifitas bakteri akan menghasilkan bahan organik yang sifatnya terlarut yang dikenal sebagai DOM (Dissolved Organic Matter). Bahan ini akan dimanfaatkan kembali oleh bakteri, diserap oleh hewan invertebrata atau berikatan dengan partikel tersuspensi dan gelembung busa melalui proses fisik-kimiawi sebelum mengendap di dasar perairan dan dimanfaatkan oleh organisme yang hidup dalam sedimen . Sebagian bahan organik akan terhanyut menuju ekosistem lamun dan terumbu karang. Bahan Organik (DOM) yang terlarut dalam kolom air akan dimanfaatkan oleh fitoplankton sebagai produsen primer membentuk partikel organik yang lebih kompleks melalui proses fotosintesis. Fitoplankton kemudian dimakan oleh zooplankton, zooplankton dimakan oleh juvenil ikan dan seterusnya. Dengan demikian terjadi transfer energi dari mangrove ke dalam jaring-jaring makanan melalui aktifitas dekomposisi dari mikroorganisme (Mann, 2000).

Di ekosistem mangrove rantai makanan yang ada untuk biota perairan adalah rantai makanan detritus. Detritus diperoleh dari guguran daun mangrove yang jatuh ke perairan kemudian mengalami penguraian dan berubah menjadi partikel kecil yang dilakukan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur.

Rantai ini dimulai dengan produksi karbohidrat dan karbon oleh tumbuhan melalui proses Fotosintesis. Sampah daun kemudian dihancurkan oleh amphipoda dan kepiting. (Head, 1971; Sasekumar, 1984). Proses dekomposisi berlanjut melalui pembusukan daun detritus secara mikrobial dan jamur (Fell et al., 1975; Cundel et al., 1979) dan penggunaan ulang partikel detrital (dalam wujud feses) oleh bermacam-macam detritivor (Odum dan Heald, 1975), diawali dengan invertebrata meiofauna dan diakhiri dengan suatu spesies semacam cacing, moluska, udang-udangan dan kepiting yang selanjutnya dalam siklus dimangsa oleh karnivora tingkat rendah. Rantai makanan diakhiri dengan karnivora tingkat tinggi seperti ikan besar, burung pemangsa, kucing liar atau manusia.

Rantai makanan pada ekosistem mangrove (Nybakken, 1992)

Gambar diatas dijelaskan tentang rantai makanan pada ekosistem mangrove secara umum namun proses rantai makanan tersebut tidaklah beda dengan system rantai makanan di ekosistem mangrove di pantai karangsong indramayu.

Daur energi pada ekosistem mangrove

Di alam semesta hanya terdapat satu sumber energi yaitu cahaya matahari. Di dalam beberapa referensi juga dijelaskan bahwa sumber energi selain matahari seperti energi air, energi listrik, energi ombak dan lain sebagainya itu semua adalah hasil transformasi (aliran) energi matahari menjadi berbagai energi tersebut.

Anda juga masih ingat bahwa aliran energi energi di dalam ekosistem berbeda dengan daur materi, dimana sifat energi mengikuti hukum-hukum termodinamika.

  1. Hukum termodinamika I : yang menyatakan bahwa energi dapat diubah bentuknya, dari bentuk yang satu kebentuk yang lain, tetapi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan.
  2. Hukum termodinamika II : yang menyatakan bahwa setiap proses perubahan  bentuk energi selalu tidak efesien. Oleh karena itu setiap perubahan bentuk energi, maka energi baru yang terbentuk konsentrasinya selalu lebih kecil dari pada konsentrasi energi sebelumnya.

Berapa besarkah energi yang mengalir pada setiap organisme di dalam ekosistem?

Marilah kita lihat gambar berikut :

Produser

Tanaman sebagai produser adalah awal dari terjadinya aliran energi. Hanya sekitar 10% energi yang mengalir ke dalam setiap aras trofik yang lebih tinggi

Konsumer primer

Hanya sekitar 10% energi yang tersedia pada tanaman dapat digunakan sebagai makanan bagi konsumer primer (herbivora).

Konsumer sekunder

Hanya sekitar 1% energi produser yang dapat dimanfaatkan oleh konsumer sekunder.

Jadi hanya sekitar 10% dari setiap level/aras trofik yang dapat dimanfaatkan oleh organisme berikutnya. Begitu besar entropi (energi yang tidak termanfaatkan) di dalam suatu ekosistem.

Proses memangsa dan dimangsa pada ekosistem mangrove secara umum

1. Mamalia

Monyet             :  ada saat terjadi surut, mencari makan seperti shell fish dan kepiting.

Kera putih         : memakan cockles di mangrove dan dapat mengganggu pembenihan            mangrove karena komunitas ini menginjak lokasi yang memiliki benih   sehingga benih mati.

Kera proboscis   : hewan endemik di mangrove, memakan daun-daun sonneratia caseolaris dan nypa fruticans.

Kera-kera ini dimangsa oleh buaya.

2. Reptil dan Amphibia

Organisme yang ada antara lain seperti biawak, ular belang, ular sanca, kadal, iguana, penyu, katak.

3. Burung

Bangau berkaki panjang, burung pemangsa seperti elang laut, burung layang-layang, dan elang pemakan ikan. Burung pekakak dan pemakan lebah adalah burung-burung berwarna yang biasa muncul atau kelihatan di hutan mangrove.

Dalam penjelasan diatas proses memangsa dan dimangsa dalam ekosistem mangrove secara umum namun ada sedikit perbedaan dalam kajian kita ini mengenai ekosistem mangrove di pantai karangsong indramayu, di pantai karangsong indramayu sendiri dalam hal tingkat pertama yaitu mamalia seperti monyet tersebut tidak ditemui dalam ekosistem tersebut namun reptile dan amphibian serta burung – burung banyak kita temui dalam ekositem tersebut.

Berikut merupakan hewan yang terdapat dalam ekosisten mangrove di pantai karangsong indramayu :

1. Reptile dan amphibian

  • Biawak (menyawak)
  • Ular pohon
  • Ular rawa
  • Ular sanca
  • Kadal
  • Iguana
  • Katak

2. Burung

  • Elang pantai
  • Burung bangau
  • Burung gereja
  • Burung jalak
  • Burung tekukur
  • Serta burung berkicau lainnya

3. Ikan

  • Ikan gelodog
  • Ikan mujair
  • Ikan belanak
  • Ikan sembilang
  • Udang – udangan
  • Ikan – ikan kecil (wader,keting dll)

4. Kerang – kerangan

  • Siput
  • Kerang kijing, dll

Rujukan Bacaan :

Supriharyono. 2000. Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Wilayah Pesisir Tropis. Gramedia : Jakarta

Nybakken, James.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia : Jakarta

http://elcom.umy.ac.id/elschool/muallimin_muhammadiyah/file.php/1/materi/Biologi/RUANG%2520LINGKUP%2520BIOLOGI.pdf

www.hutbunindramayu.blogspot.com

web.ipb.ac.id/~dedi_s/index.php?


Penulis :

Darmadi., Penulis dilahirkan di Indramayu pada tanggal 17 november 1989 telah menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMAN 1 SINDANG Indramayu pada tahun 2008 dan sekarang sedang menempuh studi strata 1 di universitas padjadjaran jurusan ilmu kelautan. Penulis sangat suka menulis di blog dan juga suka akan diving.

About these ads
13 Komentar leave one →
  1. Juni 16, 2010 3:56 am

    Wah tulisane mantep banget kang …
    Detail banget. Kayaknya kalau terus diangkat, bisa bikin orang sadar akan bahaya abrasi pantai, terutama diindramayu..

    • Juni 16, 2010 5:51 pm

      alhamdulilah ‘ang kita pngn konsern meng arah konservasi mangrove ning indramayu…doai bae ya ‘ang…

  2. Juni 18, 2010 2:14 am

    Nah kayane bisa kih, masalah mangrove diangkat via blogger indramayu…

  3. darto permalink
    Agustus 17, 2010 12:53 pm

    sy suka sekali baca artikel ini,semoga kelestarian hutan mangrove tetap terjaga,

  4. Vina permalink
    Maret 7, 2011 9:32 am

    nice post…

    mari kita konserv pesisir indramayu :D

  5. uni permalink
    Maret 8, 2011 3:22 am

    aslm, hmm aku juga ingin meneliti tentang mangrove di Indramayu. mulai nelitinya mau kapan? sapa tahu bisa saling bantu. ni aku juga buat skripsi. salam kenal…

    • Maret 8, 2011 4:03 am

      wa alaikum salam,,,

      silahkan mba..kita bisa saling share aja…

      makasih udah mampir :)

  6. lugas permalink
    Maret 27, 2011 4:43 am

    a dama bukan???
    mnta ya buat bahan tugas haha

    • Maret 27, 2011 12:19 pm

      iya gas…hahahhaha…

      ke cangkol ning blog aa ya…wwkkwkw….

  7. Eka Lisdayanti permalink
    Desember 9, 2011 1:29 pm

    Sudah bnyak beljr dari tulisan kk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: