Skip to content

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA BESAR BUTIR

Oktober 19, 2010

(Fieldtrip Mata Kuliah Sedimentologi P3GL Cirebon)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Tujuh puluh persen batuan yang menutupi permukaan bumi ini terdiri dari batuan sedimen. Yaitu batupasir, batugamping, lanau, lempung, breksi, konglomerat, dan batuan sedimen lainnya.

Batuan tersebut terbentuk secara proses fisika, kimia, dan biologi yang terendapkan secara alamiah di berbagai lingkungan pengendapan dan terus berjalan hingga saat ini. Pembelajaran tentang batuan sedimen sangat besar kontribusinya terhadap penentuan dan pembelajaran batuan batuan sedimen purba atau yang berumur tua dalam skala waktu geologi.

Banyak batuan sedimen purba yang diperkirakan sistem dan lingkungan pengendapannya dianalogikan dengan proses proses sedimentasi yang terjadi pada saat ini. Proses proses sedimentasi (fisika, kimia, biologi) sangat berhubungan erat dengan kompaksi, sementasi, rekristalisasi.

Endapan sedimen (sedimentary deposit) adalah tubuh material padat yang terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada kondisi tekanan dan temperatur yang rendah. Sedimen umumnya (namun tidak selalu) diendapkan dari fluida dimana material penyusun sedimen itu sebelumnya berada, baik sebagai larutan maupun sebagai suspensi. Definisi ini sebenarnya tidak dapat diterapkan untuk semua jenis batuan sedimen karena ada beberapa jenis endapan yang telah disepakati oleh para ahli sebagai endapan sedimen: (1) diendapkan dari udara sebagai benda padat di bawah temperatur yang relatif tinggi, misalnya material fragmental yang dilepaskan dari gunungapi; (2) diendapkan di bawah tekanan yang relatif tinggi, misalnya endapan lantai laut-dalam.

1.2.Tujuan

Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk mengetahui dan memahami alat-alat / instrument yang digunakan dalam suatu pengambilan sampel serta beberapa cara dalam analisis besar butir sedimen  dan sebagai bahan referensi / informasi tentang study ilmu sedimentology.

1.3   Lokasi

Lokasi yang digunakan untuk pengambilan serta pengolahan sampel :

1.      Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan, Cirebon, Jawa Barat. Sebagai tempat awal pengambilan sampel

2.      Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Jl. Kalijaga 101 Cirebon.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sedimentologi

Sedimentologi adalah ilmu yang mempelajari sedimen atau endapan (Wadell, 1932). Sedangkan sedimen atau endapan pada umumnya diartikan sebagai hasil dari proses pelapukan terhadap suatu tubuh batuan, yang kemudian mengalami erosi, tertansportasi oleh air, angin, dll, dan pada akhirnya terendapkan atau tersedimentasikan.

Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Sedangkan batuan sedimen adalah suatu batuan yang terbentuk dari hasil proses sedimentasi, baik secara mekanik maupun secara kimia dan organik.

a. Secara mekanik

Terbentuk dari akumulasi mineral-mineral dan fragmen-fragmen batuan. Faktor-faktor yang penting antara lain :

· Sumber material batuan sedimen :

Sifat dan komposisi batuan sedimen sangat dipengaruhi oleh material-material asalnya. Komposisi mineral-mineral batuan sedimen dapat menentukan waktu dan jarak transportasi, tergantung dari prosentasi mineral-mineral stabil dan nonstabil.

· Lingkungan pengendapan :

Secara umum lingkungan pengendapan dibedakan dalam tiga bagian yaitu: Lingkungan Pengendapan Darat, Transisi dan Laut. Ketiga lingkungan pengendapan ini, dimana batuan yang dibedakannya masing-masing mempunyai sifat dan ciri-ciri tertentu.

· Pengangkutan (transportasi) :

Media transportasi dapat berupa air, angin maupun es, namun yang memiliki peranan yang paling besar dalam sedimentasi adalah media air. Selama transportasi berlangsung, terjadi perubahan terutama sifat fisik material-material sedimen seperti ukuran bentuk dan roundness. Dengan adanya pemilahan dan pengikisan terhadap butir-butir sedimen akan memberi berbagai macam bentuk dan sifat terhadap batuam sedimen.

· Pengendapan :

Pengendapan terjadi bilamana arus/gaya mulai menurun hingga berada di bawah titik daya angkutnya. Ini biasa terjadi pada cekungan-cekungan, laut, muara sungai, dll.

· Kompaksi :

Kompaksi terjadi karena adanya gaya berat/grafitasi dari material-material sedimen sendiri, sehingga volume menjadi berkurang dan cairan yang mengisi pori-pori akan bermigrasi ke atas.

· Lithifikasi dan Sementasi :

Bila kompaksi meningkat terus menerus akan terjadi pengerasan terhadap material-material sedimen. Sehingga meningkat ke proses pembatuan (lithifikasi), yang disertai dengan sementasi dimana material-material semen terikat oleh unsur-unsur/mineral yang mengisi pori-pori antara butir sedimen.

· Replacement dan Rekristalisasi :

Proses replacement adalah proses penggantian mineral oleh pelarutan-pelarutan kimia hingga terjadi mineral baru. Rekristalisasi adalah perubahan atau pengkristalan kembali mineral-mineral dalam batuan sedimen, akibat pengaruh temperatur dan tekanan yang relatif rendah.

· Diagenesis :

Diagenesis adalah perubahan yang terjadi setelah pengendapan berlangsung, baik tekstur maupun komposisi mineral sedimen yang disebabkan oleh kimia dan fisika.

b. Secara Kimia dan Organik

Terbentuk oleh proses-proses kimia dan kegiatan organisme atau akumulasi dari sisa skeleton organisme. Sedimen kimia dan organik dapat terjadi pada kondisi darat, transisi, dan lautan, seperti halnya dengan sedimen mekanik.

Masing-masing lingkungan sedimen dicirikan oleh paket tertentu fisik, kimia, dan biologis parameter yang beroperasi untuk menghasilkan tubuh tertentu sedimemen dicirikan oleh tekstur, struktur, dan komposisi properti. Kita mengacu kepada badan-badan khusus seperti endapan dari batuan sedimen sebagai bentuk. Istilah bentuk mengacu pada unit stratigrafik dibedakan oleh lithologic, struktural, dan karakteristik organik terdeteksi di lapangan. Sebuah bentuk sedimen dengan demikian unit batu itu, karena deposisi dalam lingkungan tertentu, memiliki pengaturan karakteristik properti. Lithofacies dibedakan oleh ciri-ciri fisik seperti warna, lithology, tekstur, dan struktur sedimen. Biogfacies didefinisikan pada karakteristik palentologic dasar. Inti penekanan adalah bahwa lingkungan depositional menghasilkan bentuk sedimen. Karakteristik properti dari bentuk sedimen yang pada gilirannya merupakan refleksi dari kondisi lingkungan deposional.

Stratigrafi adalah studi batuan untuk menentukan urutan dan waktu kejadian dalam sejarah bumi. Dua subjek yang dapat dibahas untuk membentuk rangkaian kesatuan skala pengamatan dan interpretasi. Studi proses dan produk sedimen memperkenankan kita menginterpretasi dinamika lingkungan pengendapan. Rekaman-rekaman proses ini di dalam batuan sedimen memperkenankan kita menginterpretasikan batuan ke dalam lingkungan tertentu. Untuk menentukan perubahan lateral dan temporer di dalam lingkungan masa lampau ini, diperlukan kerangka kerja kronologi.

Ilmu bumi secara tradisional telah dibagi kedalam sub-disiplin ilmu yang terfokus pada aspek-aspek geologi seperti paleontologi, geofisika, mineralogi, petrologi, geokimia, dan sebagainya. Di dalam tiap sub-disiplin ilmu ini, ilmu pengetahuan telah dikembangkan sebagai teknik analitik baru yang telah diaplikasikan dan dikembangkannya teori-teori inovatif. Diwaktu yang sama karena kemajuan-kemajuan di lapangan, maka diperkenalkannya integrasi kombinasi ide-ide dan keahlian dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda-beda. Geologi adalah ilmu multidisiplin yang sangat baik dipahami jika aspek-aspek berbeda terlihat berhubungan antara satu dengan lainnya. Sedimentologi perhatiannya tertuju pada pembentukan batuan sedimen. Kemudian batuan sedimen dibahas hubungan waktu dan ruangnya dalam rangkaian stratigrafi di dalam cekungan-cekungan sedimen. Tektonik lempeng, petrologi dan paleontologi adalah topik tambahan.

Metode-metode yang digunakan oleh sedimentologists untuk mengumpulkan data dan bukti pada sifat dan kondisi depositional batuan sedimen meliputi;

  • Mengukur dan menggambarkan singkapan dan distribusi unit batu;
    • Menggambarkan formasi batuan, proses formal mendokumentasikan ketebalan, lithology, singkapan, distribusi, hubungan kontak formasi lain
    • Pemetaan distribusi unit batu, atau unit
  • Deskripsi batuan inti (dibor dan diambil dari sumur eksplorasi selama hidrokarbon)
  • Sequence stratigraphy
    • Menjelaskan perkembangan unit batu dalam baskom
  • Menggambarkan lithology dari batu;
  • Menganalisis geokimia dari batu

Geokimia isotop, termasuk penggunaan penanggalan radiometrik, untuk menentukan usia batu, dan kemiripan dengan daerah sumber.

Sedimen yang di jumpai di dasar lautan dapat berasal dari beberapa sumber yang menurut Reinick (Dalam Kennet, 1992) dibedakan menjadi empat yaitu :

1. Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang berasal dari erosi pantai dan material hasil erosi daerah up land. Material ini dapat sampai ke dasar laut melalui proses mekanik, yaitu tertransport oleh arus sungai dan atau arus laut dan akan terendapkan jika energi tertransforkan telah melemah.

2. Biogeneuos sedimen yaitu sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup seperti cangkang dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik yang mengalami dekomposisi.

3. Hidreogenous sedimen yaitu sedimen yang terbentuk karena adanya reaksi kimia di dalam air laut dan membentuk partikel yang tidak larut dalam air laut sehingga akan tenggelam ke dasar laut, sebagai contoh dan sedimen jenis ini adalah magnetit, phosphorit dan glaukonit.

4. Cosmogerous sedimen yaitu sedimen yang berasal dari berbagai sumber dan masuk ke laut melalui jalur media udara/angin. Sedimen jenis ini dapat bersumber dari luar angkasa, aktifitas gunung api atau berbagai partikel darat yang terbawa angin. Material yang berasal dari luar angkasa merupakan sisa-sisa meteorik yang meledak di atmosfir dan jatuh di laut. Sedimen yang berasal dari letusan gunung berapi dapat berukuran halus berupa debu volkanik, atau berupa fragmen-fragmen aglomerat. Sedangkan sedimen yang berasal dari partikel di darat dan terbawa angin banyak terjadi pada daerah kering dimana proses eolian dominan namun demikian dapat juga terjadi pada daerah subtropis saat musim kering dan angin bertiup kuat. Dalam hal ini umumnya sedimen tidak dalam jumlah yang dominan dibandingkan sumber-sumber yang lain. (Sugeng Widada)

Dalam suatu proses sedimentasi, zat-zat yang masuk ke laut berakhir menjadi sedimen. Dalam hal ini zat yang ada terlibat proses biologi dan kimia yang terjadi sepanjang kedalaman laut. Sebelum mencapai dasar laut dan menjadi sedimen, zat tersebut melayang-layang di dalam laut. Setelah mencapai dasar lautpun, sedimen tidak diam tetapi sedimen akan terganggu ketika hewan laut dalam mencari makan. Sebagian sedimen mengalami erosi dan tersuspensi kembali oleh arus bawah sebelum kemudian jatuh kembali dan tertimbun. Terjadi reaksi kimia antara butir-butir mineral dan air laut sepanjang perjalannya ke dasar laut dan reaksi tetap berlangsung penimbunan, yaitu ketika air laut terperangkap di antara butiran mineral. (Agus Supangat dan Umi muawanah)

Era oseanografi secara sistematis telah dimulai ketika HMS Challenger kembali ke Inggris pada tanggal 24 Mei 1876 membawa sampel, laporan, dan hasil pengukuran selama ekspedisi laut yang memakan waktu tiga tahun sembilan bulan. Anggota ilmuan yang selalu menyakinkan dunia tentang kemajuan ilmiah Challenger adalah John Murray, warga Kanada kelahiran Skotlandia. Sampel-sampel yang dikumpulkan oleh Murray merupakan penyelidikan awal tentang sedimen laut dalam.

Distribusi Sedimen Laut :

Sedimen yang masuk ke dalam laut dapat terdistribusi pada :

1. Daerah perairan dangkal, seperti endapan yang terjadi pada paparan benua (Continental Shelf) dan lereng benua (Continental Slope).

Dijelaskan oleh Hutabarat (1985) dan Bhatt (1978) bahwa ‘Continental Shelf’ adalah suatu daerah yang mempunyai lereng landai kurang lebih 0,4% dan berbatasan langsung dengan daerah daratan, lebar dari pantai 50 – 70 km, kedalaman maksimum dari lautan yang ada di atasnya di antara 100 – 200 meter.

‘Continental Slope’ adalah daerah yang mempunyai lereng lebih terjal dari continental shelf, kemiringannya anatara 3 – 6 %.

2. Daerah perairan dalam, seperti endapan yang terjadi pada laut dalam.

Endapan Sedimen pada Perairan Dangkal :

Pada umumnya ‘Glacial Continental Shelf’ dicirikan dengan susunan utamanya campuran antara pasir, kerikil, dan batu kerikil. Sedangkan ‘Non Glacial Continental Shelf’’ endapannya biasanya mengandung lumpur yang berasal dari sungai. Di tempat lain (continental shelf) dimana pada dasar laut gelombang dan arus cukup kuat, sehingga material batuan kasar dan kerikil biasanya akan diendapkan.

Sebagian besar pada ‘Continental slope’ kemiringannya lebih terjal sehingga sedimen tidak akan terendapkan dengan ketebalan yang cukup tebal. Daerah yang miring pada permukaannya dicirikan berupa batuan dasar (bedrock) dan dilapisi dengan lapisan lanau halus dan lumpur. Kadang permukaan batuan dasarnya tertutupi juga oleh kerikil dan pasir.

Endapan Sedimen pada Perairan Laut Dalam

Sedimen laut dalam dapat dibagi menjadi 2 yaitu Sedimen Terigen Pelagis dan Sedimen Biogenik Pelagis.

1. Sedimen Biogenik Pelagis

Dengan menggunakan mikroskop terlihat bahwa sedimen biogenik terdiri atas berbagai struktur halus dan kompleks. Kebanyakan sedimen itu berupa sisa-sisa fitoplankton dan zooplankton laut. Karena umur organisme plankton hannya satu atau dua minggu, terjadi suatu bentuk ‘hujan’ sisa-sisa organisme plankton yang perlahan, tetapi kontinue di dalam kolam air untuk membentuk lapisan sedimen. Pembentukan sedimen ini tergantung pada beberapa faktor lokal seperti kimia air dan kedalaman serta jumlah produksi primer di permukaan air laut. Jadi, keberadan mikrofil dalam sedimen laut dapat digunakan untuk menentukan kedalaman air dan produktifitas permukaan laut pada zaman dulu.

2. Sedimen Terigen Pelagis

Hampir semua sedimen Terigen di lingkungan pelagis terdiri atas materi-materi yang berukuran sangat kecil. Ada dua cara materi tersebut sampai ke lingkungan pelagis. Pertama dengan bantuan arus turbiditas dan aliran grafitasi. Kedua melalui gerakan es yaitu materi glasial yang dibawa oleh bongkahan es ke laut lepas dan mencair. Bongkahan es besar yang mengapung, bongkahan es kecil dan pasir dapat ditemukan pada sedimen pelagis yang berjarak beberapa ratus kilometer dari daerah gletser atau tempat asalnya.

Angin merupakan alat transportasi penting untuk memindahkan materi langsung ke laut. Lempung pelagis yang ada di laut dibawa terutama oleh tiupan angin (aeolian). Ukuran lempung ini

Komponen utama debu yang terbawa angin adalah kuarsa dan mineral lempung. Pada skala global, jumlah masuknya materi Vulkanologi ke sedimen laut dalam adalah kecil. Letusan besar dapat mengeluarkan abu dan debu dalam jumlah yang banyak dengan ketinggian 15-50 km, dan partikel terkecil berukuran 1-<1µm>

Selain pengertian sedimen di atas ada pengertian lain tentang sedimen yaitu batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk oleh proses sedimentasi. Sedangkan sedimentasi adalah proses pengendapan sediemen oleh media air, angin, atau es pada suatu cekungan pengendapan pada kondisi P dan T tertentu.

Dalam batuan sedimen dikenal dengan istillah tekstur dan struktur. Tekstur adalah suatu kenampakn yang berhubungan erat dengan ukuran, bentuk butir, dan susunan kompone mineral-mineral penyusunnya. Studi tekstur paling bagus dilakukan pada contoh batuan yang kecil atau asahan tipis.

Struktur merupakan suatu kenampakan yang diakibatkan oleh proses pengendapan dan keadaan energi pembentuknya. Pembentukannya dapat pada waktu atau sesaat setelah pengendapan. Struktur berhubungan dengan kenampakan batuan yang lebih besar, paling bagus diamati di lapangan misal pada perlapisan batuan. (Sugeng Widada : 2002).

  • Struktur Sedimen

Struktur sedimen merupakan suatu kelainan dari perlapisan normal batuan sedimen yang diakibatkan oleh proses pengendapan dan energi pembentuknya. Pembentukkannya dapat terjadi pada waktu pengendapan maupun segera setelah proses pengendapan. (Pettijohn & Potter, 1964 ; Koesomadinata , 1981) Pada batuan sedimen dikenal dua macam struktur, yaitu :

Syngenetik : terbentuk bersamaan dengan terjadinya batuan sedimen, disebut juga sebagai struktur primer.

Epigenetik : terbentuk setelah batuan tersebut terbentuk seperti kekar, sesar, dan lipatan.

Pembagian struktur sedimen ada beberapa macam dan versi dari peneliti yang menganalisa dan mempelajari struktur sedimen, pembagian struktur sedimen menurut Pettijohn 1975:

  1. Struktur Sedimen Primer: Struktur pada batuan sedimen yang terjadi pada saat proses sedimentasi sehingga dapat di gunakan untuk mengidentifikasi mekanisme pengendapan.
  2. Struktur Sedimen Sekunder : struktur sedimen yang terjadi pada batuan sedimen pada saat sebelum dan sesudah proses sedimentasi yang juga dapat merefleksikan lingkungan pengendapan, keadaan dasar permukaan, lereng,dan kondisi permukaan.
  3. Struktur Sedimen organik: Struktur sedimen yang terbentuk akibat dari proses organisme pada saat dan sesudah terjadi proses sedimentasi.

2.2. Analisa Besar Butir

Analisa granulometri merupakan suatu metoda analisa yang menggunakan ukuran butir sebagai materi analisa. Analisa ini umum digunakan dalam bidang keilmuan yang berhubungan dengan tanah atau sedimen. Dalam analisa ini tercakup beberapa hal yang biasa dilakukan seperti pengukuran rata-rata, pengukuran sorting atau standar deviasi, pengukuran skewness dan kurtosis. Masing-masing pengukuran tersebut mempunyai rumus-rumus yang berbeda dan mempunyai batasan-batasan untuk menggambarkan keadaan dari butiran yang diamati atau dianalisa. Batasan-batasan tersebut biasa disebut dengan verbal limit. Analisa granulometri dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan metode grafis dan metode statistik, dimana metode grafis memuat berbagai macam grafik yang mencerminkan penyebaran besar butir, hubungan dinamika aliran dan cara transportasi sedimen klastik, sedangkan metode statistik menghasilkan nilai rata-rata, deviasi standar, kepencengan dan kemancungan kurva.

Pilihan atau Sortasi dapat menunjukkan batas ukuran butir atau keanekaragaman ukuran butir, tipe dan karakteristik serta lamanya waktu sedimentasi dari suatu populasi sedimen (Folk, 1968). Menurut Friedman dan Sanders (1978), sortasi atau pemilahan adalah penyebaran ukuran butir terhadap ukuran butir rata-rata. Sortasi dikatakan baik jika batuan sedimen mempunyai penyebaran ukuran butir terhadap ukuran butir rata-rata pendek. Sebaliknya apabila sedimen mempunyai penyebaran ukuran butir terhadap rata-rata ukuran butir panjang disebut sortasi jelek.

Ada hubungan antara ukuran butir dan sortasi dalam batuan sedimen. Hubungan ini terutama terjadi pada batuan sedimen berupa pasir kasar sampai pasir sangat halus. Pasir dari berbagai macam lingkungan air menunjuk bahwa pasir halus mempunyai sortasi yang lebih baik daripada pasir sangat halus. Sedangkan pasir yang diendapkan oleh angin sortasi terbaik terjadi pada ukuran pasir sangat halus ( Blatt,dkk dalam Kusumadinata, 1980).

Kepencengan (SKEWNESS) adalah penyimpangan distribusi ukuran butir terhadap distribusi normal. Distribusi normal adalah suatudistribusi ukuran butir dimana pada bagian tengah dari sampel mempunyai jumlah butiran paling banyak. Butiran yang lebih kasar serta lebih halus tersebar disisi kanan dan kiri dalam jumlah yang sama. Apabila dalam suatu distribusi ukuran butior berlebihan partikel kasar, maka kepencengannya bernilai negatif (Folk, 1974).

Besar butir rata-rata merupakan fungsi ukuran butir dari suatu populasi sedimen (missal pasir kasar, pasir sedang, dan pasir halus). Besar butir rata-rata dapat juga menunjukkan kecepatan turbulen/ sedimentasi dari suatu populasi sedimen.

  • Adapun partikel-partikel sedimen oleh Friedman dan Sanders (1978) dapat dibedakan menjadi 2 kelompok :

1. Hasil rombakan atau hancuran padat dari endapan tua.

2. material yang bukan merupakan hasil rombakan atau hancuran padat yang terdiri dari material yang dikeluarkan lewat semburan gunung berapi dan material terlarut di air yang ditransportasikan dan diendapkan pada tempat akumulasi pengendapan oleh sekresi biologis atau proses pengendapan secara kimia.

Sumber sedimen dapat berasal dari berbagai tempat. Drake (1978) menerangkan bahwa terdapat 3 sumber dari material sedimen yang ditemukan pada permukaan dasar laut yaitu sumber dari daratan yang menyuplai material hancuran dan material terlarut sumber asli dari laut dan material angkasa luar. Setelah proses pelapukan terjadi selanjutnya sedimen asal mengalami proses transportasi dan lithifikasi. Drake (1978) pada proses transportasi, dibawah kondisi normal, erosi menghasilkan nilai (rate) yang sama dengan pelapukan batuan. Faktor yang mempengaruhinya adalah:

a.Kecepatan pengendapan

b.Arus aliran fluida

c.Gelombang

Hasil sedimentasi yang telah berlangsung lama akan mengalami konsolidasi atau lithifikasi (pembatuan). Sedimen yang terlithifikasi disebut batuan sedimen. Faktor yang mempengaruhi terhadap proses lithifikasi antara lain proses fisika, proses kimiawi dan proses biologi. Ukuran butiran berpengaruh terhadap sifat-sifat dari butiran tersebut. Krumbreindan Sloss (1963) menyatakan bahwa pada butiran sedimen , ukuran sedimen berhubungan dengan dinamika transportasi dan deposisi. Ukuran butiran akan mencerminkan resistensi butiran terhadap proses pelapukan, erosi dan abrasi, Pada proses transportasi berpengaruh terhadap bentuk, ukuran butir, kebolaan maupun sifat-sifat dari kumpulan butiran seperti sortasi, kepencengan dan kepuncakan akibat dari gesekan antara butiran dengan butiran maupun dengan batuan dasar. Besar kecilnya partikel penyusun tanah tersebut akan menentukan kemampuan dalam hal menahan air, mengurung tanah, dan produksi bahan organic (Dwijoseputro,1987). Dalam klasifikasi sedimen berdasarkan ukuran dapat menggunakan skala wentworth (Kusumadinata,1980).

Berikut merupakan macam-macam skala besar butir :

Udden-Wentworth Values Engineering
Cobbles64 mm

Pebbles

4 mm

Granules

2 mm

Very Coarse Sand

1 mm

Coarse Sand

0,5 mm

Medium Sand

0,25 mm

Fine Sand

0,125 mm

Very Fine Sand

0,0625 mm

Silt

0,0039 mm

Clay

-6-2

-1

0

1

2

3

4

8

Boulders10 in.

Cobbles

3 in.

Gravel

4 mesh

Coarse Sand

10 mesh

Medium Sand

40 mesh

Fine Sand

200 mesh

Fines

  • Klasifikasi Atterberg :
Batas Ukuran Nama
2000 – 200 mm Bongkah (Block)
200 – 20 mm Kerikil (Cobbles)
20 – 2 mm Kerikil (Pebbles)
2 – 0,2 mm Pasir kasar (Coarse sand)
0,2 – 0.02 mm Pasir halus (Fine Sand)
0,02 – 0,002 mm Lanau (Silt)
< 0,002 mm Lempung (Clay)
  • Skala Besar Butir Phi (Wentworth) dan Zeta (Atterberg) :
Wentworth σ Atterberg Zeta
32 mm16 mm

8 mm

4 mm

2 mm

1 mm

½ mm

¼ mm

1/8 mm

1/16 mm

1/32 mm

1/64 mm

1/128 mm

1/256 mm

1/512 mm

1/1024 mm

-5-4

-3

-2

-1

0

+1

+2

+3

+4

+5

+6

+7

+8

+9

+10

2000 mm200 mm

20 mm

2 mm

-3-2

-1

  • Skala besar butir yang dipakai dalam analisa besar butir pada Lab. Sedimentologi LGPN – LIPI :
Mesh Bukaan (mm) Phi
4 4,670 -2,3
6 3,360 -1,7
8 2,380 -1,2
12 1,680 -0.7
16 1,190 -0,3
20 0,840 0,2
30 0,590 0,7
40 0,420 1,2
50 0,297 1,7
60 0,250 2,0
65 0,208 2,3
100 0,149 2,7
120 0,125 3,0
150 0,104 3,3
200 0,074 3,7
230 0,062 4,0
270 0,053 4,2
325 0,044 4,5
Sisa
  • Daftar batas ukuran butir (menurut Wenworth) serta terminologi klastik :
Ukuran Sedimenter (epiklastik) Volkanik (piroklastik)
Bundar, bundar tanggungMenyudut tanggung Menyudut
Fragmen Agregat Fragmen Agregat
256 nm64 nm

4 nm

2 nm

1/16 nm

1/256 nm

Bongkah Kerikil bongkahKonglomerat bongkah Blok Breksivolkanik
Kerakal Kerikil kerakalKonglomerat kerakal Bomb Anglomerat
Kerikil KerikilKonglomerat kerikil Breksi TuffLapilli
Granul Granul Abu kasarTuff kasar
Pasir PasirBatu pasr
Lanau LanauBatu lanau Abu halusTuff halus
Lempung Lempung sepih

Dikenal umum dengan nama Skala Wentworth, skema ini digunakan untuk klasifikasi materi partikel aggregate ( Udden 1914, Wentworth 1922). Pembagian skala dibuat berdasarkan faktor 2 ; contoh butiran pasir sedang berdiameter 0,25 mm – 0,5 mm, pasir sangat kasar 1 mm – 2 mm, dan seterusnya. Skala ini dipilih karena pembagian menampilkan pencerminan distribusi alami partikel sedimen; sederhananya, blok besar hancur menjadi dua bagian, dan seterusnya.
Empat pembagian dasar yang dikenalkan :

1.      lempung (<> 2 mm). Skala phi adalah angka perwakilan pada skala Wentworth. Huruf Yunani ‘Ф’ (phi) sering digunakan sebagai satuan skala ini. Dengan menggunakan logaritma 2 ukuran butir dapat ditunjukkan pada skala phi sebagai berikut : Ф = – log 2 (diameter butir dalam mm). Tanda negatif digunakan karena biasa digunakan untuk mewakili ukuran butir pada grafik, bahwa ukuran butir semakin menurun dari kanan ke kiri. Dengan menggunakan rumus ini, butir yang berdiameter 1 mm adalah 0Ф; 2mm adalah -1Ф, 4 mm adalah -2Ф, dan seterusnya; ukuran butir yang semakin menurun, 0,5 mm adalah +1Ф, 0,25 mm adalah 2Ф, dan seterusnya.

Berikut adalah ukuran yang terdapat dalam skala Wenworth :

  1. Gravel, terbagi atas 4 bagian yakni : Bolders/Bongkah (>256mm), Cobble/Berangkal (64-256mm), Pebble/Kerakal (4-64mm), dan Grit/Granule/Butiran (2-4mm).
  2. Sand, Pasir Sangat Kasar (1-2mm), Pasir Kasar (1/2-1mm), Pasir Sedang (1/4-1/2mm), Pasir Halus (1/8-1/4mm), dan Pasir Sangat Halus(1/16-1/8mm)
  3. Mud, terbagi atas 2 : Silt/Lanau (1/256-1/6mm) dan Clay/Lempung (<1/256mm)
  • Mineral Penyusun Batuan Sedimen

Komponen penyusun batuan sedimen dapat berupa mineral, dan dapat pula fragmen cangkang, fragmen tumbuhan atau fragmen batuan lain. Semua komponen berupa fragmen tersebut bila ada akan dapat kita kenal dengan mudah. Untuk komponen berupa mineral, mungkin sulit mengenal jenis mineralnya, tetapi kita dapat kita kenal dari sifat fisiknya seperti mineral lempung yang lunak. Mineral-mineral kristalin umunya terasa seperti butiran pasir.

1. Clay Stone/Batulempung.

Merupakan batuan sedimen (sedimentary rock) yang mempunyai ukuran butir clay/ lempung/sangat halus.

2. Sandstone/Batupasir.

Batuan sedimen yang mempunyai ukuran butir pasir/sand dengan range 0.125mm-1mm (skala wentworth). Tersusun atas butiran (ini bisa berupa mineral maupun rock fragment). Butiran mineral (urut dari yang paling stabil-baik secara mechanical maupun chemical stability) yaitu: quartz (dan zircon, tourmaline), chert, muscovite, microcline, orthoclase, plagioclase, hornblende (dan biotite), pyroxene, dan yang terakhir olivine. Butiran yang lain bisa berupa heavy minerals (mineral berat) umumnya kandungannya kecil (sekitar1%) misal: apatite, epidote, garnet, rutile, staurolite, tourmaline, dan zircon. Butiran yang dari rock fragment bisa berasal dari volcanic maupun metasedimentary lithic fragment.

3. Limestone/Batugamping.

Merupakan batuan karbonat (carbonate rock) yang terbentuk secara biological and biochemical processes. Batuan karbonat ini harus tersusun oleh >50% carbonate minerals, yaitu: calcite (CaCO3 – rhombohedral), aragonite (CaCO3 – orthorhombic), dan mineral dolomite (Ca-Mg (CO3)2). Aragonite termasuk unstable minerals at surface temperature and pressure, sehingga jarang kita jumpai. Dari hal tersebut munculah 2 komponen penyusun yang penting yaitu calcite dan dolomite. Dari sini Boggs (1987) mengklasifikasi jika calcite nya >90% maka disebut Limestone, dan jika dolomite nya yang >90% disebut Dolostone, jika kurang dari itu hanya mensifati saja misal namanya menjadi Dolomitic limestone, dst.

  • Klasifikasi Zigg

Zingg (1935) menggunakan nisbah b/a dan c/b (dimana a, b, dan c berturut-turut panjang, lebar, dan tebal partikel) untuk mendefinisikan empat kategori bentuk. Kategori-kategori itu—oblate, prolate, triaxial, dan equi-axial. Dimana klsafikasi ini membagi batuan sedimen berdasarkan bentuk kebundarannya yaitu sebagai berikut :

1. Angular (menyudut) (0-0,15): sangat sedikit atau tidak ada jejak penghancuran; sudut dan sisi partikel tajam; sudut sekunder (tonjolan minor dari profil partikel; bukan sudut antar-muka partikel) banyak dan tajam.

2. Subangular (menyudut tanggung) (0,15-0,25): sedikit jejak penghancuran; sudut dan tepi partikel hingga tingkat tertentu membundar; banyak terdapat sudut sekunder (10-20), meskipun tidak sebanyak seperti pada partikel menyudut.

3. Subrounded (membulat tanggung) (0,25-0,40): jejak penghancuran cukup banyak; sudut dan sisi partikel membundar; jumlah sudut sekunder relatif sedikit (5-10) dan umumnya membundar. Luas permukaan partikel berkurang; sudut-dalam asli, meskipun membundar, masih terlihat jelas.

4. Rounded (membundar) (0,40-0,60): Bidang-bidang asli hampir terhancurkan seluruhnya; bidang yang relatif datar masih dapat ditemukan. Sisi dan sudut asli menjadi melengkung dan membentuk kurva yang relatif besar; hanya sedikit ditemukan sudut sekunder (0-5). Pada kebundaran 0,60, semua sudut sekunder hilang. Bentuk asli masih terlihat.

5. Well rounded (sangat bundar) (0,60-1,00): tidak ada permukaan, sudut, atau sisi asli; semuanya membentuk lengkungan-lekungan besar; tidak ada bagian yang datar; tidak ada sudut sekunder. Bentuk asli tidak terlihat lagi, amun dapat diperkirakan dari bentuknya yang sekarang.

  • Software KUMMOD

Software/program KUMMOD digunakan sebagai langkah berikutnya dari analisis sampel. KUMMOD adalah suatu program yang digunakan untuk kita mengetahui termasuk jenis sampel apa dari suatu stasiun/titik pengambilan sampel itu, apakah termasuk lanau,pasir,ataupun krikilan.

2.3. Pengenalan GPS

GPS (Global Positioning System) adalah sebuah sistem navigasi berbasiskan radio yang menyediakan informasi koordinat posisi, kecepatan, dan waktu kepada pengguna diseluruh dunia. Jasa penggunaan satelit GPS tidak dikenakan biaya. Pengguna hanya membutuhkan GPS Receiver untuk dapat mengetahui koordinat lokasi. Keakuratan koordinat lokasi tergantung pada tipe GPS receiver.

GPS yang digunakan pada saat pengambilan sampel dikapal

GPS terdiri dari tiga bagian yaitu satelit yang mengorbit bumi (Satelit GPS mengelilingi bumi 2x sehari), stasiun pengendali dan pemantau di bumi, dan GPS receiver. Satelit GPS dikelola oleh Amerika Serikat. Alat penerima GPS inilah yang dipakai oleh pengguna untuk melihat koordinasi posisi. Selain itu GPS juga berfungsi untuk menentukan waktu.

Ada 2 sistim koordinat utama yang dipakai dalam penentuan posisi :

- Koordinat geografi

- Koordinat di atas bidang proyeksi

Hal-hal yang perlu dilakuakan agar kesalahan posisi akibat

salah setting receiver dapat dikurangi :

• Perlu tahu DATUM yang dipakai pada peta kerja

• Setting parameter Receiver sesuai dengan yang ada di peta

Hal-hal lain yang wajib dilaksanakan saat pengukuran di

lapangan :

• Setup harus selalu dicek saat aka ke lapangan maupun setelah

pergantian baterai dilakuakan.

• Hindari pengukuran dekat gedung transmisi tegangan tinggi,

stasiun pemancar besar ( TV, Radio)

• Pengoperasian alat tergantung Receivernya + Metoda yang

dipakai.

 

BAB III

METODOLOGI

3.1. Pengambilan Sampel

Dalam pengambilan sampel sedimen dalam praktikum ini kita berlayar menuju laut sekitar kurang lebih 1 km dari pantai dengan penentuan 3 titik sampel, untuk praktikum ini adalah kita menggunakan alat Grab Sampler, gambaran tentang alat ini sebagai berikut:

  • Grab sampler berfungsi untuk mengambil sedimen permukaan yang ketebalannya tergantung dari tinggi dan dalamnya grab masuk kedalam lapisan sedimen. Alat ini biasa digunakan untuk mengambil sampel sedimen pada perairan dangkal. Berdasarkan ukuran dan cara operasional, ada dua jenis grab sampler yaitu grab sampler berukuran kecil dan besar.
  • Grab sampler yang berukuran kecil dapat digunakan dan dioperasionalkan dengan mudah, hanya dengan menggunakan boat kecil alat ini dapat diturunkan dan dinaikkan dengan tangan. Pengambilan sampel sedimen dengan alat ini dapat dilakukan oleh satu orang dengan cara menrunkannya secara perlahan dari atas boat agar supaya posisi grab tetap berdiri sewaktu sampai pada permukaan dasar perairan. Pada saat penurunan alat, arah dan kecepatan arus harus diperhitungkan supaya alat tetap konstant pada posisi titik sampling.
  • Grab Sampler yang berukuran besar memerlukan peralatan tambahan lainnya seperti winch (kerekan) yang sudah terpasang pada boat/kapal survey berukuran besar. Alat ini menggunakan satu atau dua rahang/jepitan untuk menyekop sedimen. Grab diturunkan dengan posisi rahang/jepitan terbuka sampai mencapai dasar perairan dan sewaktu diangkat keatas rahang ini tertutup dan sample sedimen akan terambil.
  • Keuntungan pemakaian grab sampler adalah lokasi sampel dapat ditentukan dengan pasti, prakiraan kedalam perairan dapat diketahui, sedangkan kerugiannya adalah kapal harus berhenti sewaktu alat dioperasikan, sampel teraduk, dan beberapa fraksi sedimen yang halus mungkin hilang.

 

 

 

 

Penurunan dan Penaikan Grab Sampler

3.2. Metode Ayakan

Analisa besar butir ini pada umumnya berdasarkan kepada teori – teori kecepatan endapan partikel (settling velocity of particle), analisa ayakan dan beberapa teori lainnya. Teori kecepatan perngendapan partikellebih cocok digunakan pada butir – butir batuan yang lebih halus, sedangkan butir – butir batuan yang relative lebih halus, sedangkan butir – butir batuan yang lebih kasar lebih cocok digunakan dengan teori  ayakan.  Teori ayakan ini mulai dipergunakan pada tahun 1704 (Krumbein, 1932).

Analisa besar butir

Dalam analisa ayakan diperlukan butiran – butiran batuan sedimen yang benar – benar lepas, sehingga batuan sedimen klastik yang telah mengalami kompaksi perlu diuraikan menjadio butiran – butiran lepas . Dan penguraian batuan sedimen dapat diuraikan secara fisik dan kimiawi. Dalam melakukan analisa besar butir khususnya analisa ayakan sebenarnya tidak sederhana seperti dalam prakteknya.

Beberapa seri ayakan yang dapat digunakan dalam analisa besar butir diantaranya adalah ASTM sieve series, Tyler sieve series dan IMM sieve series dan masing – masing mempunyai lubang bukaan yang berbeda.

Metode ayakan dengan menggunakan sieve

Berikut merupakan table ASTM sieve series, Tyler sieve series, IMM sieve series :

ASTM sieve series             Tyler sieve series          IMM sieve series

Mesh Opening
5 4.00
6 3.36
7 2.83
8 2.38
10 2.00
12 1.68
14 1.41
16 1.19
18 1.00
20 0.84
25 0.71
30 0.59
35 0.50
40 0.42
45 0.35
50 0.297
60 0.25
70 0.21
80 0.177
100 0.149
120 0.125
140 0.105
170 0.083
200 0.074
230 0.062
270 0.053
325 0.044
Mesh Opening
5 2.540
8 1.574
10 1.270
16 0.782
20 0.635
25 0.508
30 0.426
35 0.416
40 0.317
45 0.254
50 0.211
60 0.180
70 0.157
80 0.137
90 0.125
100 0.105
120 0.084
150 0.061
200 -
Mesh Opening
5 2.540
8 1.574
10 1.270
16 0.792
20 0.635
25 0.508
30 0.421
35 0.416
40 0.317
45 0.254
50 0.211
60 0.180
70 0.157
80 0.139
90 0.127
100 0.107
120 0.084

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dasar dari metode ayakan adalah bahwa butiran dibagi atas selang-selang kelas yang dibatasi oleh besarnya lubang ayakan. Penyebaran kumulatif dari besar butir dalam hal ini adalah yang lebih kasar yang tersangkut. Set dari ayakan ini banyak yang dipergukan dalam teknik dan ada beberapa macam skala besar butir yangsering dipergunakan dalam analisa ukuran besar butir, anata lain:

  • Skala besar butir “Udden dan Wentworth”
  • Skala besar butir “Attenberg”
  • Skala besar butir “Enginering”

Dalam analisa besar ukuran butir, macam sklala besar butir yanga akan dipergunakan dapat dipilih salah satunya dari skala besar butir yang tersebut di atas. Selain skala-skala tersebut di atas, juga disajikan skala besar butir LBPN-LIPI. Skala besar butir yang sering digunakan adalah skala besar butir berbentuk logaritma yang merupakan deretan angka-angka hasil minus logaritma dan disebut dengan skala ‘phi’.

σ (phi) = -2 log d : dimana d adalah diameter menurut skala Wentworth (Krumbein, 1934).

Hal ini disebabkan karena lebih mudah dalam perhitungan dan data yang diperoleh dapat di plot ke dalam kertas semi log atau kertas probabilitas atau kertas lainnya.

 

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan praktikum lapangan mata kuliah sedimentologi laut ini berlangsung selama 2 hari yaitu 31 Mei-1 Juni 2009 bertempat di Kota Cirebon, Jawa Barat. Lokasi pertama tujuan praktikum dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan Cirebon, Jawa Barat. Pengambilan sampel di lakukan dari pukul 13.00-15.00. Setelah itu lokasi selanjutnya pelaksanaan praktikum lapangan dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Jl. Kalijaga 101 Cirebon, Jawa Barat. Ditempat itu mahasiswa mendapatkan pengarahan tentang cara pengolahan serta analisis sampel dan pengolahannya dengan menggunakan software KUMMOD. Kemudian pada tanggal 1 Juni 2009 dari pukul 11.00-14.00 bertempat di tempat yang sama (P3GL), mahasiswa mendapatkan pengarahan tentang penggunaan Global Positioning System (GPS) dan kemudian melaksanakan remind test.

4.2. Metode Ayakan

Dalam analisa besar butir kita akan menggunakan metode ayakan dengan tahapan pengerjaan sebagai berikut :

  • Pertama sampel kita masukan kedalam oven selama 1 – 2 hari dengan suhu 100 – 110  ͣC

Sampel dimasukan kedalam oven

  • Setelah sampel mengalami pengeringan kita ambil sampel lalu kita timbang seberat 100 gram

 

Sampel yang sudah kering ditimbang

  • Setelah kita timbang sampel diberi air dengan saringan pan dengan ukuran 4 Ø < dan 4 Ø >

Disaring dalam pan saringan

  • Masukan sisa air saringan kedalam baskom lalu diamkan supaya mengendap hingga jernih airnya selama 1 hari, setelah itu sampel dikeringkan kembali kedalam oven.

Sampel diendapkan selama 24 jam

  • Setelah sampel kering kita gunakan saringan pan dengan 7 tingkat kerapatan saringan

  • Lalu gunakan sieve shaker selama 15 menit

  • Masukan sampel dari pan saringan 1 – 6 kedalam baskom

  • Setelah itu ambil sampel ayakan, ayakan dalam pan saringan terakhir kita saring lagi dengan pan saringan yang lebih rapat 7 tingkat pula lebih rapat dari pan saringan yang pertama
  • Setelah itu gunakan sieve shaker kembali selama 15 menit

  • Lalu ambil sampel yang sudah kita shake masukan kedalam baskom, jadi jumlah sampel ada 14 baskom lalu masukan kedalam plastic sampel lalu kita beri label

  • Lalu kita timbang kembali

  • Hasilnya kita tulis di form yang sudah tersediauntuk mengindentifikasi besaran butir tersebut.

4.3. Metode Analisa Pipet

Dalam metode analisa pipet ini kita menggunakan pipet dalam pengindentifikasian besar butir dalam penggunaan metode ini biasanya untuk sampel butir yang lebih halus, berikut merupakan tahapan metode pipet :

  • Pertama kita endapkan sampel dalam beaker glass 1000 ml
  • Setelah itu kita keringkan dalam oven

Oven pengeringan

  • Lalu kita timbang beratnya berapa dalam 1000 ml itu (ex. 20 gram)
  • Setelah itu kita masukan kedalam tabung ukur 1000 ml terus kita homogenkan dengan mengaduknya dalam temperature 30 – 32   ͣC
  • Lalu sampel kita kurangi dan masukan kedalam beaker glass setelah itu kita timbang sampai 4 desimal
  • Setelah itu kita tambahkan dalam sampel tersebut natrium oksalat (1,36 gram / 1 liter) dan natrium benzoate (1,06 gram / 500 ml) yang tujuannya agar menghilangkan buih untuk memudahkan dalam pengukurannya
  • Lalu kita mulai melakukan analisa pipet, sediakan 5 gelas tabung  50 ml

Analisa pipet

 

  • Perlakukan sampel sesuai dengan standard jumlah sampel dan parameter waktu
  • Kocok gelas tabung dengan gagang untuk mengocok diamkan hingga 20 detik lalu ambil dengan pipet 1 (tabung gelas 1)

Alat pengaduk

  • Lalu kocok gelas tabung dengan gagang untuk mengocok satu kali lalu diamkan selama 19 detik lalu ambil dengan pipet 2 (tabung gelas 2)

Perlakuan pipet

  • Lalu kocok gelas tabung dengan gagang untuk mengocok lima kali lalu diamkan selama 16 detik lalu ambil dengan pipet 3 (tabung gelas 3)

Table waktu perlakuan

  • Lalu kocok gelas tabung dengan gagang untuk mengocok dua kali lalu diamkan selama 15 detik lalu ambil dengan pipet 4 (tabung gelas 4)
  • Lalu kocok gelas tabung dengan gagang untuk mengocok dua kali lalu diamkan selama 24 menit lalu ambil dengan pipet 5 (tabung gelas 5)
  • Lalu pisahkan air dengan endapan sedimen
  • Setelah itu masukan endapan sedimen kedalam beaker glass
  • Masukan kedalam oven untuk proses pengeringan
  • Lalu timbang beratnya
  • Setelah itu kita compare dengan data form ukuran besar butir
  • Lalu catat hasilnya dalam form yang disediakan.

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum diatas adalah dalam pelaksanaan praktikum dilaksanakan di pantai pelabuhan kejawan dan kita analisa di laboratorium P3GL Cirebon, analisa besar butir dalam praktikum ini kita bagi menjadi dua sesi yaitu pertama sesi pengambilan sampel dilapangan dan yang kedua kita analisa sampel di laboratorium.

 

Dalam pengambilan sampel kita menggunakan alat Grab sampel dengan tiga titik pengambilan sampel dengan menggunakan GPS, kita menggunakan dua metode yaitu metode ayakan dan analisa pipet, dalam pengerjaannya metode ayakan pada dasarnya menganalisa besar butir yang tidak terlalu halus dibandingkan dengan metode analisa pipet metode ini digunakan untuk mengindentifikasi besar butir yang lebih halus.

 

 

5.2 Saran

 

P3GL sebagai salah satu instansi yang meneliti tentang sedimen suatu perairan butuh lebih banyak sumber daya baik SDM maupun fasilitas yang diperbanyak. Begitu luas laut kita sehingga dibutuhkan kesadaran bersama-sama bahwa besar pula tanggung jawab kita untuk mengetahui, mempelajari dan melindungi laut kita dengan cara-cara yang baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://agusnurul.blogspot.com/2009/04/tugas-mata-kuliah-sedimentology.html

http://alfonsussimalango.blogspot.com/2010/04/sedimentologi-part-2.html

http://k-o-n-inews.blogspot.com/2010/04/praktikum-mata-kuliah-sedimentologi.html

http://spaceboyz-aidysz.blogspot.com/2009/10/sedimen-dasar-laut.html

http://disfaslanal.wordpress.com/

Panduan Praktikum Mata Kuliah Sedimentologi; Analisa Besar Butir. Noor Cahyo,. Yuniarti : Universitas Padjadjaran 2010.

 

 

 

 

 

 

 

About these ads
9 Komentar leave one →
  1. Oktober 19, 2010 2:51 pm

    kunjunganbalik ditunggu

  2. Oktober 27, 2010 5:56 am

    nice info bos….
    check it out.. klik ini

  3. kasim permalink
    Januari 15, 2011 2:00 pm

    infonya bagus, bisa ngak saya minta software untuk pengolahan ukuran burirnya (Kummod), sbb saya lagi penelitian analisis ukuran butir di danau tempe. tq

    • Januari 17, 2011 12:19 pm

      untuk software saya tidak menyimpan mas,,mas bisa minta k PPGL…

  4. Februari 4, 2011 8:01 am

    BLognya keren bos, sukses buat blognya.
    Salam kenal dari kami BBB

  5. Oktober 5, 2011 8:30 am

    mesti blajar byk dari dharma neee

  6. Evly permalink
    Desember 7, 2011 5:03 am

    Harga Ayakannya brapa mas…..belinya dimana?
    Salam kenal dari Evly

    • Desember 7, 2011 5:36 am

      ga tau mba..itu d laboraturium bukan punya pribadi..mungkin bisa searching d google d alat2 laboratorium…

  7. adhit permalink
    Desember 30, 2011 9:05 am

    mas kalau rumus2 tentang sedimen ad tidak? by adhit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: