Skip to content

Study Case “Konversi Lahan Pesisir Di Pesisir Sumatera Utara”

Maret 22, 2010

ANALISIS TERHADAP KEGIATAN KONVERSI HUTAN MANGROVE MENJADI LAHAN TAMBAK LALU DI KONVERSI LAGI  MENJADI LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI DAERAH SUMATERA UTARA

Oleh :

Darmadi           230210080069

Furkon             230210080062

Seiring dengan berkembangnya zaman, secara tidak langsung kita dituntut untuk dapat memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Banyak cara untuk kita dapat menyesuaikan diri, dengan cara mendapatkan income secara cepat ataupun secara bertahap. Salah satu cara mendapatkan income yang relative cepat adalah dengan melakukan budidaya kelapa sawit, yang masa pertumbuhan dan produksinya relative cepat.

Salah satu cara mendapatkan lahan untuk budidaya kelapa sawit adalah dengan cara konversi hutan mangrove seluas 1000 hektar menjadi lahan tambak, kemudian lahan tambak tersebut di konversi lagi sebesar 90-100 hektar menjadi lahan kelapa sawit di daerah pesisir Sumatera Utara. Konversi lahan dalam kasus ini menurut kami berpengaruh baik secara langsung ataupun tidak terhadap berbagai kehidupan di dalam ekosistem mangrove ataupun tambak, karena aktivitas ini akan mengusik organisme yang semula menempati wilayah sebelumnya serta dapat menurunkan kemampuan mangrove untuk berfungsi sebagaimana mestinya.

Dimulai dari hutan bakau yang dikonversi menjadi lahan budidaya tambak, dalam proses konversi lahan ini tentu terlebih dahulu menebang habis hutan bakau, karena tidak mungkin dilakukan pembakaran, karena aktivitas pembakaran hutan telah dilarang oleh pemerintah. Dalam aktivitas penebangan hutan ini, tentunya telah terjadi pengusikan terhadap ekosistem sehingga akan berpengaruh terhadap rantai makanan yang semula sebagai berikut :

Daun dan batang dari tumbuhan mangrove yang gugur lalu diuraikan oleh detritus lalu detritus ini dimakan oleh ikan-ikan kecil, bivalve udang-udangan kecil, lalu hewan-hewan tersebut dimakan oleh kepiting, ikan-ikan besar, kemudian setelah itu dimakan oleh burung-burung seperti bangau, ular pohon, mamalia ataupun monyet, lalu ketika hewan-hewan tersebut mati, maka akan diuraikan kembali menjadi detritus, lalu kembali seperti alur sebelumnya, begitu terus terjadi.

Dalam proses konversi lahan tentunya kelangsungan hidup organisme tersebut akan terganggu, seperti semuladalam ekosistem ini terdapat monyet, serangga, ular dan burung-burung akan pergi karena lahan tersebut telah ditebang untuk budidaya tambak, dan hal ini secara langsung akan merubah tatanan rantai makanan dan aktivitas memangsa dan dimangsa dari yang semula.

Jika dalam suatu ekosistem terjadi ketidakseimbangan dalam hal siklus rantai makanannya akibat dari alam ataupun aktivitas manusia, maka akan berubah pula dalam segi pemangsa-dimangsa, siklus energy, serta bias menyebabkan munculnya pemangsa-pemangsa baru yang ada di wilayah tersebut. Pengaruh konversi ini antara lain :

  1. Penyerapan karbon oleh hutan mangrove berkurang, maka akan meningkatkan aktivitas global warming.
  2. Hilangnya fungsi hutan mangrove yaitu sebagai penahan ombak dan sebagai green belt.
  3. Hilangnya beberapa organism khusus pada ekosistem mangrove, seperti monyet, ular pohon, bangau dan lain-lainya.
  4. Mempengaruhi siklus oksigen karena sklus energy fotosintesis berkurang akibat berkurangya jumlah ekosistem mangrove.
  5. Menyebabkan abrasi karena tak ada penghalang ombak.

Analisis diatas merupakan analisis awal perubahan lahan konversi dari hutan mangrove menjadi lahan budidaya tambak. Analisis selanjutnya adalah mengenai dikonversinya lagi lahan budidaya tambak menjadi lahan kelapa sawit seluas 90-100 hektar. Aktivitas konversi ini tentunya berpengaruh juga terhadap ekosistem ataupun lingkungan, karena lahan ini merupakan lahan komersial tinggi, maka tentunya akan banyak terjadi aktivitas seperti aktivitas kimia(pemberian pupuk), dan penggunaan pestisida untuk membunuh hama. Seperti kita ketahui bahwa terdapat dua (2) aliran besar yang membelah hutan mangrove seperti sungai untuk masuk dan keluarnya air pasang-surut. jika ditinjau dari sisi ekologis, maka konversi lahan tambak yang sebelumnya hutan mangrove menjadi lahan perkebunan kelapa sawit ini akan mengurangi bahkan menghilangkan kemampuan hutan mangrove dalam hal penyerapan karbon.  Bahkan konversi ini akan mengakibatkan pelepasan karbon yang sangat besar sebagai  akibat dari degradasi (drainase gambut, kebakaran dan oksidasi), dampak lainnya adalah berubahnya tatanan rantai makanan yang terjadi sebelum konversi ini dilakukan, dengan berubahnya tatanan rantai makanan, maka berubah pula rantai energy yang terjadi antara organisme dan tanaman setempat.

Konversi tentang peralihan mangrove menjadi lahan pertambakan atau penggunaan lainnya harus didasarkan pada :

  1. Kesesuaian lahan untuk tambak (masalah tanah sulfat masam, gambut, pasir) atau penggunaan lain.
  2. Pasang surut dan sumber air tawar.
  3. Pensyaratan jalur hijau.
  4. System perlindungan kawasan dan kawasan hutan lindung.
  5. Dampak terhadap lingkungan.
  6. Infrastruktur seperti pasar, ketersedian bibit dan lain-lain.
  7. Pengenaan pajak untuk areal tambak, agar keinginan membuat tambak berkurang.
  8. Penetapan beberapa kawasan hutan mangrove menjadi daerah kawasan lindung (Tarsoen Waryono, 2000).

Dalam kaitannya dengan pengaruh pemberian pupuk atau pestisida dalam ekosistem ini maka akan sangat berpengaruh terhadap aliran sungai tersebut, dan tentu dampaknya akan terjadi terhadap organisme yang menghuni sungai tersebut, terlebih sungai tersebut juga menjadi lahan mata pencaharian bagi nelayan setempat.

Menurut Dr. Ir Supriharyono M.S dalam bukunya “Pelestarian dan pengelolaan SDA di wilayah pesisir tropis” , bahwa baik pupuk kimia maupun buatan yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, terdapat unsur hara seperti fosfor, nitrogen, kalium, kalsium magnesium dan semacamnya (major element) hingga (trace element) yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, namun penggunaan pupuk  anorganik yang semakin intensif dikhawatirkan akan menimbulkan pencemaran unsur hara pada air dipermukaan dan air tanah, hal ini juga dapat berdampak pada terganggunya kegiatan makan-dimakan, karena beberapa organisme mengalami dampak negatif dari pencemaran tersebut.

Drainase perkebunan kelapa sawit mengalirkan air tanah ke laut sampai batas tertentu yang dapat merusak fungsi tatanan air dan mengakibatkan kemarau di musim kering. Mengenai keamanan makanan, perkebunan kelapa sawit mempunyai efek yang dramatis, karena perkebunan kelapa sawit menggunakan system monokultur. Beberapa jenis ikan akan dapat melanjutkan hidupnya dan tinggal di saluran air (kanal), namun kondisi tersebut akan jauh lebih baik bila keberadaannya didalam ekosistem hutan rawa gambut yang alami, seperti kanal yang tidak tertutup. Semua persediaan makanan, satwa dan tumbuhan akan hilang bersama dengan penebangan hutan untuk kayu konstruksi dan bahan bakar, dan begitu pula untuk kekayaan hasil hutan bukan kayu.

 

Penggunaan pupuk yang berlebihan memiliki dampak nyata karena semakin intensif pemberian pupuk, maka memungkinkan peningkatan jumlah pupuk yang terbuang ke lingkungan. Menurut Armitage (1974) tidak semua pupuk yang digunakan untuk pemupukan akan dimanfaatkan semuanya oleh tanaman, maka dari itu kandungan unsur hara yang berlebihan akibat dari pemupukan ini akan menyebabkan terjadinya kondisi lewat subur atau yutrofikasi, yang akan berlanjut pada rusaknya ekosistem perairan tersebut, dalam hal ini penghuni ekosistem sungai tersebut, karena unsur hara ini akan mengendap lalu terbawa dan tercampur dalam perairan tersebut.

Hal lain yang perlu di analisis adalah mengenai keberadaan penggunaan pestisida yang merupakan zat kimia yang digunakan untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan jamur yang bersifat parasit. Menurut Supriharyono (2000), dalam prakteknya penggunaan pestisida pada umumnya tidak semua bahan kimia yang digunakan mencapai organisme sasaran, sehingga sisanya akan hilang ke lingkungan, terbawa aliran sungai-sungai, ketika di sungai akan berpengaruh terhadap tubuh ikan, bahkan dapat menyebabkan kematian terhadap ikan jika dalam kadar tinggi, dan akhirnya mengalir ke laut.

 

Table 1. Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit (Nurina et al,2000)

No Sebelum Sesudah
1 Dapat mengendalikan erosi, banjir, sedimentasi, dan longsor Meningkatnya aliran permukaan, erosi, sedimentasi dan longsor
2 Gudang sumberdaya genetic dan pendukung ekosistem kehidupan Merusak ekosistem DAS
3 Infiltrasi jauh lebih tinggi Merusak habitat hutan alam,
4 Meningkatnya aktivitas biologi tanah Semakin parah jika pembersihan hutan dengan cara pembakaran
5 Penyerapan air jauh lebih tinggi Meningkatkan laju erosi permukaan
6 Saluran drainase Peresapan air semakin terbatas
7 Tidak mudah terbakar Mengurangi ketersedian air pada musim kemarau

Table 2. Kisaran konsentrasi total (LC 50) insektisida organoklorin dan organofosfat terhadap ikan, crustacea dan moluska dalam waktu 96 jam, pada salinitas 24 ‰ ppt dan suhu air 20˚C (Macel,1970).

No Jenis Pestisida LC 50 (Mg/bahan efektif)
Ikan Crustacea moluska
1 Organoklorin

 

  1. Endrin
  2. P.P’-DDT
  3. Heptachlor
  4. Dieldrin
  5. Aldrin
  6. Lindane
  7. Methoxichlon
0.00005-0,00310

 

0.0040-0,0890

0,0008-0,1880

0,0009-0,0340

0,0050-0,1000

0,0090-0,0660

0,0120-0,1500

0,0017-0,0120

 

0,0006-0,0060

0,0080-0,4480

0,0070-0,0500

0,0080-0,0330

0,0050-0,0100

0,0040-0,0120

>10

 

>10

>10

>10

>10

>10

>10

2 Organofosfat

 

  1. Dioxathion
  2. Malathion
  3. Phosdrin (R)
  4. DDVP
  5. Methil Parathon
6,0060-0,0750

 

0,0270-3,2500

0,0650-0,8000

0,2000-2,3300

5,2000-75,000

0,0380-0,2850

 

0,0330-0,0830

0,0110-0,0690

0,0050-0,0450

0,0020-0,0070

>25

 

>25

>25

>25

>25

Sumber referensi :

www.dephut.go.id

www.mangrovecenter.or.id

www.rudyct.com

MS, Supriharyono.(2000).Pelestarian dan pengelolaan SDA di wilayah pesisir tropis. BPLHD : Bandung

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: