Skip to content

Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Mengoptimalkan Produksi Garam Rakyat di Desa Tanjakan, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu

Januari 30, 2013

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Produksi garam di Indonesia memang sangat tergantung pada cuaca, seperti pada tahun 2009 di kabupaten Indramayu dengan luas lahan produktif seluas 1.533 ha dapat menghasilkan 103.662,10 ton atau sekitar 5,6% dari total produksi garam di Indonesia, sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan garam di Jawa Barat Kabupaten Indramayu menyumbang sebesar 19,5 % pertahun (Dinas Perikanan dan Kelautan Idramayu).

Biasanya pada musim kemarau para petambak garam di Desa Tanjakan mulai menggarap lahannya pada bulan Juni. Mereka mulai menguras, mengeringkan dan membersihkan tambak-tambak mereka guna mempersiapkan lahan untuk proses pembuatan garam. Pada bulan Juli tambak-tambak mulai diisi dengan air laut dan memulai proses peminihan garam selama 1 – 1,5 bulan. Pada bulan Agustus – November mereka mulai memanen garam.

Iklim yang tidak menentu akibat dari pemanasan gobal  sehingga di Indonesia terjadi hujan sepanjang tahun. Hal ini sangat berdampak pada pemenuhan kebutuhan garam dikarenakan produksi garam di Indonesia sangat tergantung dari panas matahari, sehingga pada tahun 2010 terjadi penurunan produksi garam lokal bahkan di beberapa daerah para petambak tidak memproduksi garam dan menyebabkan kelangkaan garam, sehingga pemerintah melakukan impor garam dari Australia dan India yang note bene bermutu lebih baik.

Salah satu program unggulan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2011 yang akan digunakan guna mendukung mengimplementasikan Konsep Minapolitan di Indonesia. Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) KKP telah mengalokasikan anggaran yang akan di distribusikan kepada 40 kabupaten/kota di sebanyak 10 provinsi untuk menyiapkan 32.000 hektar lahan tambak garam baru (Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat).

Menteri KKP Fadel Muhammad mengemukakan, melalui PUGAR diharapkan pada tahun 2011 impor garam dapat dikurangi. Komponen kegiatan yang diberikan kepada masyarakat melalui program PUGAR yakni penyususnan rencana rinci pemberdayaan tingkat desa, peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM petambak garam, fasilitas kemitraan , dan penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLM).

Dengan adanya Program Minapolitan Garam diharapkan produksi garam lokal semakin meningkat dan dapat mengurangi masuknya garam impor dari luar. Tetapi tidak lupa diharapkan pemerintah melakukan program untuk meningkatkan produksi garam tidak hanya dengan memperluas lahan dengan membuka lahan-lahan baru tetapi lebih di fokuskan pada memanfaatkan lahan yang sudah ada dengan meningkatkan dan mengoptimalkan produksinya sehingga tidak banyak berdampak pada penurunan fungsi ekologis yang berakibat pada biota-biota suatu wilayah.

Dilatar belakangi hal tersebut kami membuat karya tulis ilmiah berjudul Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Mengoptimalkan Produksi Garam Rakyat di Desa Tanjakan, Kecamatan Kerangkeng, Kabupaten Indramayu. Penerapan teknologi tepat guna ini merupakan suatu metode untuk meningkatkan produksi garam rakyat dalam membantu pemerintah dalam swasembada garam.

TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan :

Berdasarkan rumusan diatas maka karya tulis ini bertujuan untuk :

1. Meningkatkan produksi garam di Desa Tanjakan

2. Menjelaskan metode penerapan teknologi tepat guna

Manfaat :

Penulis mempunyai harapan nantinya karya tulis ini dapat bermanfaat bagi :

1. Petambak Garam Rakyat

  • Petambak garam rakyat mengetahui metode penerapan teknologi tepat guna sehingga dapat mengoptimalkan hasil produksi
  • Peningkatan kesejahteraan petambak garam rakyat di Desa Tanjakan

2. Pemerintah

  • Sebagai referensi pemerintah untuk meningkatkan produksi garam
  • Terwujudnya Minapolitan melalui Swasembada Garam

3. Ekologi

  • Dengan mengoptimalkan lahan yang sudah ada maka tidak perlu lagi adanya pembukaan lahan baru yang dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi ekologis wilayah tersebut.

GAGASAN

Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan

Masyarakat Desa Tanjakan, Kecamatan Krangkeng pada umumnya tinggal di daerah sekitar muara sampai pinggir pantai yang umumnya bermata pencaharian sebagian besar sebagai petambak garam. Data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu Desa Tanjakan merupakan salah satu desa penghasil garam terbesar di Indramayu dilihat dari angka produksi pada tahun 2009 sebesar 12.347 ton dengan luas lahan tambak produktif sebesar 182,5 hektar.

Dalam memproduksi garam di Desa Tanjakan sendiri masih menggunakan metode tradisional dengan berbagai kendala yang terjadi baik dalam segi kuantitas maupun segi kualitas, seperti kualitas dan mutu produksi yang rendah, banyaknya lumpur yang bercampur dengan air laut, menurunnya salinitas air laut, cuaca hujan, lamanya waktu peminihan sehingga memperlama waktu pemanenan,  Pengetahuan tata persil garam yang terbatas sehingga jumlah produksi kurang optimal bila dibandingkan dengan lahan yang ada.

Apalagi pada tahun 2010 akibat dari Tingginya curah hujan di Indonesia menyebabkan hilangnya produksi garam di Desa Tanjakan bahkan hampir seluruh Kabupaten Indramayu tidak melakukan produksi garam akibat gagal panen, hal ini menyebabkan Indonesia megimpor garam hampir 55 % dari Australia dan India guna memenuhi garam konsumsi dan garam industri. Kondisi penggaraman nasional saat ini tingkat produktivitas lahan penggaraman rata-rata 60-70 ton/hektar/tahun. Angka ini cukup rendah dibandingkan Australia atau India yang mencapai 140 ton/hektar/tahun, rendahnya harga jual garam di tingkat petambak pada saat panen raya.

Solusi yang Pernah Ditawarkan atau Diterapkan Sebelumnya untuk Memperbaiki Keadaan Pencetus Gagasan

Untuk menangani masalah kurangnya pasokan garam lokal maka Kementrian Perikanan dan Kelautan  membuat Program Minapolitan Garam, yaitu dengan pemberian dana sebesar Rp 470 miliar lebih untuk 40-an sentra, untuk Kabupaten Indramayu sendiri diberi dana sekitar Rp 11 miliar yang salah satu desa penghasil garamnya yaitu Desa Tanjakan. Program minapolitan garam yang akan di terapkan di Indramayu seperti pembukaan lahan-lahan baru, pemberian Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) kepada para petambak, pelatihan dan pendampingan terhadap masyarakat petambak garam (Dinas Perikanan Kelautan Indramayu).

Saat ini program minapolitan garam masih dalam tahap identifikasi dan sosialisasi.  Program ini sangat baik apabila dapat diterapkan dimana produksi dapat meningkat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petambak garam. Namun program ini dapat berdampak lebih baik apabila lebih difokuskan pada pengoptimalan lahan tambak yang sudah ada dengan menciptakan teknologi tepat guna, yang dimana tidak harus serba modern tetapi hemat, efisien, efektif, mudah digunakan dan memiliki nilai lebih.

Berdasarkan keterangan dari salah satu mantan pejabat terkait di Kementrian Perindustrian yang melakukan studi banding ke China, menunjukan bahwa pemerintah Negri Tirai Bambu itu turun tangan membantu petani garam melalui teknologi tepat guna. Beliau mengatakan dengan penggunaan teknologi tepat guna ini China berhasil meningkatkan produksi garamnya.

Seberapa Jauh Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan Dapat Diperbaiki Melalui Gagasan yang Diajukan

Apabila kita merajuk pada penggunaan teknologi tepat guna seperti yang dilakukan di china  kita bisa ambil contoh perbandingan antara proses produksi garam skala industri seperti PT GARAM (Persero) dengan produksi garam tradisional seperti di Desa Tanjakan. Dari situ kita dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan dari masing-masing metode sehingga kita dapat menerapkan metode yang dapat dipakai pada metode skala industri dengan menambahkan teknologi terbarukan sehingga produksi garam tradisional dapat menyaingi garam industri baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Perbedaan tersebut disebabkan oleh keterbatasan lahan yang dimiliki oleh penggarap garam tradisional sehingga tata persil tambak garam pun dibuat sesederhana dan seminim mungkin mengikuti luasan lahan yang mereka punyai. Berikut tata persil yang ada di wilayah Desa Tanjakan :

A. Saluran Inlet

Air laut dimasukan ke saluran tambak dengan bantuan kincir. Tinggi saluran ini berkisar antara 80 – 120 cm. Saluran inlet ini dibuat tinggi agar tidak terpengaruh oleh pasang surut air laut.

B. Kolam I (Air 2-3 bittern)

Air dari saluran inlet dimasukan kedalam kolam I dengan bantuan kincir untuk dibuat menjadi jenuh. Tinggi pematang saluran ini antara 70 – 80 cm. Setelah air di kolam ini berubah menjadi 10 bittern, air lalu dipindahkan ke kolam II. Kolam I ini kemudian diisi kembali dengan air dari saluran inlet (air 0).

C. Kolam II (Air 10 bittern)

Air dari kolam I yang telah mencapai 10 bittern dipindahkan ke kolam II dengan bantuan kincir untuk dibuat menjadi jenuh. Tinggi pematang saluran ini antara 60 – 70 cm. Setelah air di kolam ini berubah menjadi 15 bittern, air lalu dipindahkan ke kolam III. Kolam II ini kemudian diisi kembali dengan air dari kolam I (air 10 bittern).

D. Kolam III (Air 15 bittern)

Air dari kolam II yang telah mencapai 15 bittern dipindahkan ke kolam III dengan bantuan kincir untuk dibuat menjadi jenuh. Tinggi pematang saluran ini antara 50 – 60 cm. Setelah air di kolam ini berubah menjadi 20 bittern, air lalu dipindahkan ke kolam IV. Kolam III ini kemudian diisi kembali dengan air dari kolam II (air 15 bittern).

E. Kolam IV (Air 20 bittern)

Air dari kolam III yang telah mencapai 20 bittern dipindahkan ke kolam IV tanpa bantuan kincir tetapi hanya dengan bantuan saluran air saja. Kolam penjenuhan terakhir ini membuat air menjadi tua (jenuh) dengan kisaran 25 bittern. Tinggi pematang saluran ini antara 30 – 50 cm. Setelah air di kolam ini berubah menjadi 25 bittern, air lalu dipindahkan ke meja garam. Kolam IV ini kemudian diisi kembali dengan air dari kolam III (air 20 bittern).

F. Meja Garam I (Air 25 bittern)

Air tua dari kolam IV yang telah mencapai 25 bittern dipindahkan ke meja garam I dengan bantuan saluran air atau serok (semacam gayung) untuk diubah menjadi kristal garam. Tinggi pematang meja garam ini antara 20 – 30 cm. Air dari saluran ini kemudian berubah menjadi kristal garam muda. Setelah garam dipanen, meja garam I ini kemudian diisi kembali air tua (25 bittern) dari kolam IV.

G. Meja Garam II (Air ≥ 29 bittern)

Sisa air tua (29 ≥ bittern) dari meja garam 1 kembali dialirkan ke meja garam II dengan bantuan saluran air atau serok (semacam gayung) untuk diubah menjadi kristal garam. Tinggi pematang meja garam ini antara 10 – 20 cm. Pada kolam ini dilakukan penguapan total hingga seluruh air berubah menjadi kristal garam tua. Setelah garam dipanen, meja garam II ini kemudian diisi kembali sisa air tua (29 ≥ bittern) dari meja garam I

F. Gudang garam i

Hasil kristal garam yang telah dipanen dari meja garam I dan II kemudian disimpan di dalam gudang garam. Konstruksi gudang garam ini umumnya terbuat dari bahan bambu dan bilik untuk menekan biaya produksi meski masa pakainya singkat (1 – 2 tahun).Saluran Inlet (Air 2 – 3 bittern)

Air laut dimasukan ke sodetan tanah yang menyerupai sungai yang mengelilingi PT Garam melalui mekanisme pasang surut.

G. Peminihan I (Air 5 bittern)

Air dari sodetan tanah (inlet) dimasukan kedalam peminihan I dengan bantuan saluran air untuk dibuat menjadi jenuh. Peminihan I difungsikan juga sebagai tandon sumber air laut bagi proses produksi PT. Garam. Setelah mencapai 10 bittern, air dari peminihan I kemudian dipindahkan ke peminihan II dan diisi kembali oleh air dari inlet (2 – 3 bittern).

H. Peminihan II (Air 10 bittern)

Air dari peminihan I dimasukan kedalam peminihan II dengan bantuan pompa air berukuran besar serta saluran air untuk dibuat menjadi lebih jenuh. Setelah mencapai 15 bittern, air dari peminihan II kemudian dipindahkan ke peminihan III dan diisi kembali oleh air dari peminihan I (5 bittern).

I. Peminihan III (Air 15 bittern)

Air dari peminihan II yang telah mencapai 15 bittern dipindahkan ke kolam III dengan bantuan pompa air berukuran besar serta saluran air untuk dibuat menjadi jenuh. Setelah mencapai 20 bittern, air dari peminihan III kemudian dipindahkan ke peminihan IV dan diisi kembali oleh air dari peminihan II (15 bittern).

J. Peminihan IV (Air 20 bittern)

Air dari peminihan III yang telah mencapai 20 bittern dipindahkan ke kolam IV tanpa bantuan kincir atau pompa tetapi hanya dengan bantuan saluran air saja. Kolam penjenuhan terakhir ini membuat air menjadi tua (jenuh) dengan kisaran 23 – 25 bittern. Tinggi pematang saluran ini antara 30 – 50 cm. Setelah mencapai 23 – 25 bittern, air dari peminihan IV kemudian dimasukan ke meja-meja garam dan diisi kembali oleh air dari peminihan III (20 bittern).

K. Meja Garam (Air 23 – 25 bittern)

Air tua dari peminihan IV yang telah mencapai 23 – 25 bittern dipindahkan ke meja-meja garam dengan bantuan saluran air untuk diubah menjadi lantai dan kristal garam. Air dari meja garam ini kemudian berubah menjadi kristal. Setelah garam dipanen, meja garam ini kemudian diisi kembali air tua (23 – 25 bittern) dari peminihan IV.

L. Saluran Outlet (Air ≥ 29 bittern)

Sisa air tua (29 ≥ bittern) dari meja-meja garam kemudian dialirkan ke saluran outlet dengan bantuan saluran air. Air tua ini kemudian dibuang dan dialirkan kembali ke laut.

M. Gudang Garam

Hasil kristal garam yang telah dipanen dari meja-meja garam kemudian disimpan di dalam gudang garam. Konstruksi gudang garam ini umumnya terbuat dari bahan bata dan rangka baja (permanen).

N. Kantor Pengelola

Kantor pengelola juga terdapat di lahan PT. Garam untuk memudahkan masalah administrasi dan teknis produksi. Selain kantor, juga terdapat bangunan mess bagi petambak serta bangunan keamanan berupa pos jaga.

Dari perbandingan diatas perbedaan yang menonjol dari kedua metode tersebut yaitu dari segi luas lahan, kualitas garam, kuantitas yang di hasilkan, teknologi dan fasilitas yang menunjang. Dari sana bisa kita lihat bahwa dalam proses pembuatan garam dibutuhkan kriteria lahan. Lahan yang dikatakan sesuai untuk lahan garam adalah lahan dengan kriteria sebagai Evaporasi / penguapan (tinggi), Kecepatan dan arah angin (>5 m/detik), Suhu udara (>32°C), Penyinaran matahari (100%), Kelembaban udara (<50% H), Curah hujan (rendah) dan hari hujan (kurang),  Pasang surut. Bahan yang diperlukan antara lain : Air laut yang bebas dari polusi (dipompa), Natrium karbonat (teknis), Natrium Oksalat (teknis)

Standar sistem produksi berdasarkan peraturan iodinisasi adalah sebagai berikut:

Desain Lahan Garam Basis Perhitungan Luas lahan 1 hektar :

–       Satu musim garam enam bulan kerja

–       Satu ton garam (NaCl) 97,78 % db, dihasilkan oleh 50 m3 air laut 2,50 Bittern

–       Safety factor 20 %, sehingga 60 m3 air laut untuk satu ton produksi garam.

  • Penyiapan Air Laut

–       Target produksi 80 ton / musim garam

–       Kebutuhan air laut = 80 x 60 m3 = 4.800 m3

–       Kebutuhan air laut = 4.800 m3 : 6 = 800 m3 / bulan

–       Pasang naik 2 kali / bulan (tanggal muda dan pertengahan)

–       Persiapan air laut 800 m3 : 2 = 400 m3 setiap kali pasang naik

  • Kolam

–       Ukuran panjang 40 m, lebar 30 m, luas 15 % dari luas lahan

–       Kapasitas 400 m3 diolah 15 hari

–       Kedalaman air waduk 0,4 m

–       Luas lahan 400 m3 : 0,4 = 1.000 m3

–       Total luas lahan 1.500 m3 untuk saluran dan pematang

  • Tenaga Kerja

–       Untuk memindahkan air, kemampuan tenaga manusia 12 l air laut / angkatan

–       Air laut yang diolah per hari 400 m3 : 15 = 27.000 liter

–       Jumlah angkatan 27.000 : 12 = 2.250 kali

–       Satu menit 15 angkatan

–       Waktu yang dibutuhkan 2.250 : 15 = 2,5 jam, dengan 1 jam istirahat. Total waktu = 3,5 jam

  • Garam Kualitas I

–       Merupakan hasil proses kristalisasi pada larutan 24,0- 29,50 Bittern dengan kadar NaCl minimal 97,1 %.

  • Garam Kualitas II

–       Merupakan sisa kristalisasi di atas pada kondisi kelarutan 29,50-350 Bittern dengan kadar NaCl minimal 94,7%.

  • Garam Kualitas III

–       Merupakan sisa larutan kepekatan di atas pada kondisi >35,0 Bittern dengan kadar NaCl <94,7%. Pada kondisi ini akan diperoleh garam dengan kadar impuritas yang cukup tinggi sehingga garam menjadi kotor karena unsur-unsur ikutan seperti bromida, magnesium, kalium dan sulfat, pada larutan semakin sulit terpisahkan dari senyawa NaCl.

Dari hasil penelitian salinitas di perairan Indonesia berkisar 30-35 0/00. Untuk daerah pesisir, salinitas berkisar antara 32-34 0/00, sedangkan untuk laut lepas, salinitas umumnya berkisar antara 33-37 0/00 dengan rata-rata 35 0/00 (Romimohtarto & Thayib, 1982).Atas dasar itu maka kami mencoba mebuat gagasan penerapan teknologi tepat guna untuk mengoptimalkan produksi garam di Desa Tanjakan. Berikut skema tata persil yang kami buat :

  1. Laut

Air laut yang merupakan sumber air bagi tambakan garam, yang berada sekitar 10-20 m dari bibir pantai.

  1. Pompa Tekan (Dengan Teknologi Sederhana)2.
  2. Parit/saluran air

Air laut yang dimasukan ke dalam parit/saluran air dengan menggunakan pompa tekan, merupakan sumber air bagi tambak-tambak garam yang ada di Desa Tanjakan

       3. Tandon/waduk

Air laut yang dimasukan ke tandon/waduk dengan pompa atau kincir. Dibuat agar pada saat bukan bulan produksi garam air laut yang ditampung dalam tandon dibuat menjadi jenuh, sehingga pada saat musim penggaraman air laut sudah jenuh dan salinitasnya tinggi.  Tinggi tandon ini berkisar antara 80 – 150 cm. Tandon ini dibuat tinggi agar tidak terpengaruh oleh pasang surut air laut.

      4. Kolam I (Air 7-10 bittern)

Air dari tandon/waduk dimasukan kedalam kolam I dengan bantuan kincir atau pompa untuk dibuat menjadi jenuh. Tinggi pematang saluran ini antara 70 – 80 cm. Setelah air di kolam ini berubah menjadi 10 bittern, air lalu dipindahkan ke kolam II. Kolam I ini kemudian diisi kembali dengan air dari tandon/waduk (air 7 – 10 bittern).

      5. Kolam II (Air 10 bittern)

Air dari kolam I yang telah mencapai 10 bittern dipindahkan ke kolam II dengan bantuan kincir atau pompa untuk dibuat menjadi jenuh. Tinggi pematang saluran ini antara 60 – 70 cm. Setelah air di kolam ini berubah menjadi 15 bittern, air lalu dipindahkan ke kolam III. Kolam II ini kemudian diisi kembali dengan air dari kolam I (air 10 bittern).

     6. Kolam III (Air 15 bittern)

Air dari kolam II yang telah mencapai 15 bittern dipindahkan ke kolam III dengan bantuan kincir atau pompa untuk dibuat menjadi jenuh. Tinggi pematang saluran ini antara 50 – 60 cm. Setelah air di kolam ini berubah menjadi 20 bittern, air lalu dipindahkan ke kolam IV. Kolam III ini kemudian diisi kembali dengan air dari kolam II (air 15 bittern).

    7. Kolam IV (Air 20 bittern)

Air dari kolam III yang telah mencapai 20 bittern dipindahkan ke kolam IV tanpa bantuan kincir atau pompa tetapi hanya dengan bantuan saluran air saja. Kolam penjenuhan terakhir ini membuat air menjadi tua (jenuh) dengan kisaran 25 bittern. Tinggi pematang saluran ini antara 30 – 50 cm. Setelah air di kolam ini berubah menjadi 25 bittern, air lalu dipindahkan ke meja garam. Kolam IV ini kemudian diisi kembali dengan air dari kolam III (air 20 bittern).

     8. Meja Garam I (Air 25 bittern)

Air tua dari kolam IV yang telah mencapai 25 bittern dipindahkan ke meja garam I dengan bantuan saluran air atau serok (semacam gayung) untuk diubah menjadi kristal garam. Tinggi pematang meja garam ini antara 20 – 30 cm. Air dari saluran ini kemudian berubah menjadi kristal garam muda. Setelah garam dipanen, meja garam I ini kemudian diisi kembali air tua (25 bittern) dari kolam IV.

     9. Meja Garam II (Air ≥ 29 bittern)

Sisa air tua (29 ≥ bittern) dari meja garam I kembali dialirkan ke meja garam II dengan bantuan saluran air atau serok (semacam gayung) untuk diubah menjadi kristal garam. Tinggi pematang meja garam ini antara 10 – 20 cm. Pada kolam ini dilakukan penguapan total hingga seluruh air berubah menjadi kristal garam tua. Setelah garam dipanen, meja garam II ini kemudian diisi kembali sisa air tua (29 ≥ bittern) dari meja garam I.

      10. Gudang Garam

Hasil kristal garam yang telah dipanen dari meja garam I dan II kemudian disimpan di dalam gudang garam. Konstruksi gudang garam ini umumnya terbuat dari bahan bambu dan bilik untuk menekan biaya produksi meski masa pakainya singkat (1 – 2 tahun).

Beberapa kelebihan dari metode penggaraman Rakyat Gagasan :

  1. Kualitas bahan baku utama (air laut) yang baik karena diambil dari laut sehingga tidak banyak mengandung lumpur dan lebih bersih, mempunyai salinitas yang lebih tinggi dari pada air laut yang berada di daerah pesisir
  2. Penggunaan dan pemanfaatan pompa tekan (dengan teknologi sederhana) yang selama bertahun-tahun yang sudah digunakan di daerah Indramayu. Dan telah di modifikasi dan di rancang bangun kembali oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), dalam hal ini P3TPSE (Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi) yang telah di sumbangkan masing-masing kecamatan di Indramayu.
  3. Waktu yang diperlukan untuk mengisi bahan baku utama (air laut) karena dengan bantuan pompa tekan (dengan teknologi sederhana) ini dapat memindahkan air sebesar 5000 liter/menit  atau 300.000 liter/jam dengan menggunakan enggine 8 hp atau sama dengan 300 m­­­­3/jam. sehingga dalam standar sistem produksi iodinisasi untuk pemenuhan kebutuhan air laut yang sebesar 4.800 m­­­­3 dalam 1 ha yang memakan waktu 6 bulan dan harus menunggu setiap waktu pasang naik, dengan pompa ini hanya memakan waktu 16 jam dan tidak tergantung waktu pasang naik.
  4. Tandon/waduk yang berfungsi sebagai penampung sumber air untuk tambak, tempat pengendapan zat-zat agar air laut yang digunakan lebih bersih, pada saat bukan musim penggaraman tandon/waduk ini untuk membantu penuan air laut sehingga pada saat musim penggaraman air yang dipakai sudah dalam kondisi salinitas yang tinggi sehingga mempercepat proses peminihan yang biasanya berlangsung lama sehingga dapat memperbanyak produksi garam. Kita ambil contoh dalam satu tahun (12 bulan) hanya pada musim kemarau saja yaitu bulan juni-november atau sekitar 6 bulan dilakukan proses penggaraman. Dengan di buatnya tandon/waduk ini selama 6 bulan sisanya dimanfaatkan untuk memproses penuaan sumber air.
  5. Dengan metode penggaraman rakyat gagasan maka produksi garam di Desa Tanjakan meningkat sehingga pembukaan lahan baru dapat diminimalkan dengan di terapkannya gagasan Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Mengoptimalkan Produksi Garam di Desa Tanjakan ini diharapkan dapat membantu jalannya program pemerintah dalam meningkatkan produksi garam lokal melalui swasembada garam dengan tetap menjaga lingkungan sehingga menjadi program yang berkelanjutan dan dengan Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk mengoptimalkan Produksi garam di Desa Tanjakan dapat berdampak pada peningkatan pendapatan penggarap atau petani garam sehingga berakibat pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Tanjakan.

Pihak-pihak yang Dipertimbangkan Dapat MembantuMengimplementasikan Gagasan dan Uraian Peran atau Kontribusi Masing-masingnya

Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Mengoptimalkan Produksi Garam Rakyat di Desa Tanjakan dapat membantu pertambakan garam di Desa Tanjakan dalam meningkatkan produksi garamnya. Fokus utama dari Penerapan teknologi Tepat Guna untuk Mengoptimalkan Produksi Garam Rakyat di Desa Tanjak yaitu pada teknis pembuatan garamnnya yang di terapkan teknologi tepat guna pada model metode penggaramannya demi membantu Program Minapolitan Garam. Untuk mewujudkan hal tersebut adapun beberapa pihak yang dapat membantu mengimplementasikan program ini, yaitu : (1) koperasi garam Desa Tanjakan; (2) Gabungan kelompok petambak garam Desa Tanjakan; (3) Kelompok petambak garam Desa Tanjakan; (4) Dinas Perikanan Kelautan Indramayu. Program Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk mengoptimalkan Produksi Garam di Desa Tanjakan akan berjalan baik apabila dilaksanakan dengan adanya dukungan dari masing-masing pihak.

Gabungan kelompok petambak garam menjadi koordinaator pelaksana, selanjutnya Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu sebagai pendukung dan penyokong dana untuk memberikan modal dan membangun infrastruktur dan alat yang dibutuhkan, kelompok petambak garam yang menjalankan program dengan baik, dan koperasi garam Desa Tanjakan berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan  meningkatkan aktivitas ekonomi secara keseluruhan, yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petambak garam Desa Tanjakan.

Langkah-langkah Strategis Teknik Implementasi yang Harus Dilakukan untuk Mengimplementasikan Gagasan sehingga Tujuan atau Perbaikan yang Diharapkan Dapat Tercapai

Tabel 1. Tahapan Mengimplementasikan Gagasan

TAHAPAN

KEGIATAN

Sosialisasi Metode 1. Memasukan metode gagasan kedalam Program pelatihan dan pendampingan minapolitan garam oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu.2. Sosialisasi pelaksanakan program pelatihan dan pendampingan.
Pemberian modal 1. Mengidentifikasi calon penerima modal2. Laporan hasil identifikasi3. Penyaluran modal pada setiap penerima modal
Penerapan metode 1. Dilakukan pembuatan dan pengadaan infrastruktur yang menunjang2. Pelatihan penggunaan alat dan perawatan alat3. penerapan teknologi tepat guna
Lanjutan 1. Pengawasan berjalannya metode2. Keberadaan koperasi garam  dalam menjamin harga jual garam

Dari tabel diatas dapat diketahui beberapa tahap yang ditempuh dalam Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Mengoptimalkan Produksi garam di Desa Tanjakan. Tahap awal dalam mengimplementasikan gagasan dilakukan sosialisasi metode terlebih dahulu. Pertama memasukan metode gagasan kedalam Program pelatihan dan pendampingan minapolitan garam oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu, hal ini perlu karena gagasan yang kita buat sejalan dan mendukung program minapolitan garam. Kedua sosialisasi pelaksanakan program pelatihan dan pendampingan, sesuai dengan jadwal yang dibuat Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu, disini kelompok petambak garam di berikan pelatihan mengenai tambak garam yang baik dan menerapkan metode gagasan.

Tahapan selanjutnya Pemberian Modal untuk menerapkan metode gagasan. Pertama identifikasi calon penerima modal, hal ini dilakukan agar dapat mengetahui calon-calon yang layak untuk diberikan modal agar tidak terjadi penyimpangan dalam pemberian modal. Kedua laporan hasil identifikasi hasil laporan ini diberikan kepada Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu untuk di proses agar diketahui anggaran yang di perlukan. Ketiga Penyaluran modal pada setiap penerima modal, para calon penerima modal yang terdata setelah proses identifikasi di berikan bantuan modal dalam menerapkan metode gagasan.

Tahapan selanjutnya yaitu penerapan metode gagasan. Pertama dilakukan pembuatan dan pengadaan infrastruktur yang menunjang dalam penerapan metode, seperti perbaikan lahan, pembuatan tandon/waduk, pipa saluran air, pompa tekan (dengan teknologi sederhana), gudang penyimpanan dan akses jalan. Kedua pelatihan penggunaan alat dan perawatan alat, alat yang digunakan disini adalah pompa tekan (dengan teknologi sederhana) walaupun alat ini sangat mudah digunakan serta suku cadang yang mudah didapat, tetapi setiap mesin dibutuhkan perawatan yang benar agar kondisi mesin yang digunakan baik dan tetap dapat berjalan dengan lancar. Ketiga penerapan teknologi tepat guna. Disini proses diterapkannya metode gagasan

Kemudian tahapan yang terakhir yaitu lanjutan, Pertama pengawasan berjalannya metode. Setelah penerapan metode perlu dilakukan pengawasan agar metode yang diterapkan dapat berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Kedua keberadaan koperasi garam dalam menjamin harga jual garam. Disini peran koperasi sangat penting untuk menghindari harga jual garam yang rendah pada musim produksi garam. Hal ini perlu adanya sistem atau aturan yang mengatur harga garam agar sesuai dan dapat meningkatkan kesejahteraan petambak garam.

KESIMPULAN

Gagasan yang Diajukan

Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Mengoptimalkan Produksi Garam Rakyat di Desa Tanjakan merupakan program yang dilatar belakangi permasalahan garam yang terjadi di Indonesia dan mengambil daerah kajian di Desa Tanjakan, Kecamatan Kerangkeng, Kabupaten Indramayu dalam hal kurangnya pasokan garam di Indonesia sehingga diperlukannya peningkatan produksi garam. Dari gagasan yang diajukan lebih kepada metode yang diambil dari proses produksi garam industri dengan produksi garam tradisional, dari sana diambil teknologi tepat guna yang dapat digunakan oleh petambak garam tradisional sehingga kuantitas dan kualitas garamnya dapat bersaing dengan garam industri.

Metode yang dipakai dalam gagasan yaitu penggunaan pompa tekan (dengan teknologi sederhana) dimana pompa ini dapat mengambil air laut dari 10-20 meter dari pantai agar air laut yang diambil lebih bersih dan memiliki salinitas yang lebih tinggi sebagai bahan baku utama garam dengan kemampuan 5000 liter/menit, kemudian air laut ini masuk kedalam parit/saluran air yang digunakan untuk mengairi tambak-tambak garam di Desa Tanjakan., air dari parit kemudian masuk kedalam tandon/waduk yang dibuat agar pada saat bukan musim penggaraman air laut ditampung, mengendapkan zat-zat yang tidak diperlukan dan di buat jenuh disini sehingga saat musim penggaraman air laut yang digunakan sudah dalam kondisi jenuh dan memiliki salinitas yang tinggi, untuk seterusnya proses penggaraman sama seperti proses penggaraman yang sudah biasa dilakukan di Desa Tanjakan.

Dengan metode Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Mengoptimalkan Produksi Garam Rakyat di Desa Tanjakan dapat membantu program pemerintah dalam minapolitan garam dalam hal mengoptimalkan produksi garam dari lahan yang sudah ada, sehingga dapat mengurangi pembukaan lahan tambak baru yang dapat menurunkan fungsi ekologi dan berdampak pada biota-biota yang berada di suatu wilayah.

Teknik Implementasi yang Akan Dilakukan

Dalam Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Mengoptimalkan Produksi Garam Rakyat di Desa Tanjakan dapat terwujud dengan beberapa mekanisme atau tahapan yaitu : (1) Sosialisasi metode, dimana terdapat : (a) memasukan metode gagasan kedalam program minapolitan garam oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu, (b) sosialisasi pelaksanakan program pelatihan dan pendampingan, (c) sosialisasi. (2) Pemberian modal, terdiri dari : (a) mengidentifikasi calon penerima modal, (b) laporan hasil identifikasi, (c) penyaluran modal pada setiap penerima modal. (3) Penerapan metode, terdiri dari : (a) dilakukan pembuatan dan pengadaan infrastruktur yang menunjang, (b) pelatihan penggunaan alat dan perawatan alat, (c) penerapan teknologi tepat guna. (4) Lanjutan, terdiri dari : (a) pengawasan berjalannya metode, (b) keberadaan koperasi garam dalam menjamin harga jual garam.

Prediksi Hasil yang Akan Diperoleh ( Manfaat dan Dampak Gagasan)

Dengan diterapkannya Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Mengoptimalkan Produksi Garam di Desa Tanjakan ini yang bertujuan dalam meningkatkan produksi garam baik dari segi kuntitas maupun kualitas. Adapun beberapa prediksi hasil yang akan diperoleh dari metode gagasan yaitu : Pertama garam yang dihasilkan akan lebih baik karena bahan baku yang diambil dari air laut yang tidak banyak tercampur zat-zat yang tidak diinginkan dan bersalinitas tinggi. Kedua produksi akan lebih cepat karena dengan pompa tekan (dengan teknologi sederhana) dapat mempercepat pasokan air yang dibutuhkan dan penggunaan air yang sudah di lakukan proses penuaan di waduk/tandon sehingga mempercepat proses pada kolam peminihan. Ketiga akibat dari produksi garam lokal yang memiliki kualitas yang baik dan kuantitas yang banyak maka garam lokal dapat bersaing dengan garam industri. Keempat dengan meningkatnya produksi garam lokal maka program minapolitan dalam swasembada garam dapat terwujud  sehingga Indonesia tidak perlu lagi mengimpor garam dari luar, Kelima apabila minapolitan ini dapat terwujud maka kesejahteraan petambak garam akan meningkat.

 TULISAN INI DIKUTIP DARI MAKALAH PKM-GT YANG DIUSULKAN OLEH Sdr. Rezha Adviana Refrial dan Sdr. Theissen Khadafi

(ILMU KELAUTAN, UNIVERSITAS PADJADJARAN)

DAFTAR PUSTAKA

  • Boyd CE. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. New York: Elsevier Scientific Publishing Company.
  • Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air, Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan, Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
  • KKP (Kementrian Kelautan dan Perikanan). 2008. Profil Garam Rakyat, Jakarta.
  • Romimohhtarto, K. 1985. Kualitas Air Dalam Budidaya Laut, FAO. Bandar lampung. Salt Institute. Annual Report 2007
  • Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Indramayu. 2009. Profil garam Indramayu. Indramayu
  • Burhanudin, S.BE. 2003. Pompa Tekan (Dengan Teknologi Sederhana). BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Bandung
  • Purbani, Dini. 2001. Proses Pembentukan Kristalisasi Garam. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Nonhayati. Jakarta
  • Djumena, Erlangga. 2010. Fadel haramkan impor garam 2-3 tahun lagi. (http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/12/09/21382666/Fadel.Haramkan.Impor.Garam.2-3.Tahun.Lagi)

 

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: