Skip to content

PETAMBAK GARAM, ALTERNATIF MATA PENCAHARIAN BERKELANJUTAN

Desember 23, 2013

‘Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan’, kutipan tersebut merupakan salah satu isi dari 8 sasaran Millenium Development Goals (MDGs) yang diselenggarakan di New York pada bulan September tahun 2000 dan diikuti oleh 189 negara PBB. Indonesia sebagai salah satu negara yang menandatangani deklarasi tersebut tentunya juga berkomitmen untuk memberantas kemiskinan dan kelaparan nasional. Berdasarkan data BPS jumlah total penduduk miskin di Indonesia sebanyak 31,3 juta jiwa dan sebanyak 25,14% berada di wilayah pesisir. Hal ini karena Indonesia sebagai negara maritim dimana hampir 2/3 wilayahnya terdiri dari perairan. Oleh karena itu,  Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Kelautan dan Perikanan dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan kelaparan dengan menginisiasi mata pencaharian berkelajutan yaitu Pemberdayaan Garam Rakyat (PUGAR) sejak tahun 2011 yang dilakukan di 9 Propinsi dan 42 Kabupaten/Kota di Indonesia.

Tujuan kegiatan PUGAR adalah untuk meningkatkan pendapatan, penumbuhan kemampuan wirausaha di bidang kelautan dan perikanan serta meningkatkan kualitas lingkungan. Langkah yang ditempuh adalah dengan memperluas kesempatan kerja, meningkatkan infrastruktur pendukung, dan menguatkan sektor perikanan, dimana perhatian khusus diberikan melalui perluasan fasilitas kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemberdayaan masyarakat miskin dengan meningkatkan akses dan penggunaan sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraannya, peningkatan akses penduduk miskin terhadap pelayanan sosial dan perbaikan penyediaan proteksi sosial bagi kelompok miskin.

Indonesia memiliki 7 sentra garam yaitu di Sumenep, Pamekasan, Sampang, Rembang, Pati, Cirebon dan Indramayu. Indramayu sebagai salah satu kabupaten sentra penghasil garam menyumbang 9% dari total produksi garam Indonesia yaitu sebesar 230,625.79 ton.  Pencapaian tersebut tidak lepas dari kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu meliputi penyuluhan, pelatihan dan bimbingan teknis (BIMTEK) penggunaan teknologi tepat guna seperti Teknologi Ulir Filter (TUF), ramsol, geomembran dan backyard dengan tujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam. Berdasarkan hasil uji laboratorium, kadar NaCl garam di kabupaten Indramayu mencapai 99.31% dimana dengan hasil tersebut garam di Indramayu sudah memenuhi kriteria garam industri dimana 19% termasuk garam KP1, 68% KP2 dan 13% KP3. Sehingga garam rakyat dari petambak di Indramayu siap bekerjasama bahkan bersaing dengan sektor industri, baik dalam hal produksi maupun pemasarannya.

Pemberian fasilitas sarana, prasarana dan teknologi dari KKP diharapkan dapat memberikan angin segar sehingga mampu meningkatkan kemampuan para petambak garam dalam meningkatkan jumlah produksi yang akan berdampak pada peningkatan pendapatan mereka. Kedepannya, usaha garam rakyat diharapkan dapat terus berjalan mengingat sumberdaya air laut sebagai bahan baku pembuat garam sangat melimpah. Outcome dari kegiatan PUGAR adalah meningkatnya pendapatan para petambak garam. Berdasarkan analisa usaha yang dilakukan pada saat sebelum adanya kegiatan PUGAR tahun 2009 pendapatan petambak garam per bulannya hanya Rp. 1,356,250., dan sesudah ada kegiatan PUGAR tahun 2012 pendapatannya meningkat hampir 2 kali lipat menjadi Rp. 3,113,750. Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa usaha garam rakyat bisa dijadikan sebagai mata pencaharian yang berkelanjutan, sehingga kesejahteraan para petambak garam meningkat dan terbebas dari kelaparan dimana merupakan salah satu sasaran MDGs yang diharapkan dapat tercapai tahun 2015.

Artikel ini ditulis oleh :

With ncuzMUTIARA SALSABIELA, S. Pi

Tenaga Pendamping PUGAR Kab. Indramayu

Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan UNDIP

Penerima Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan kerjasama Luar Negeri KEMENDIKNAS

 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    


 

3 Komentar leave one →
  1. Januari 13, 2014 9:05 am

    Wah mantap tulisannya.r. kalau mau kontak Mbak Mutiara ini ke mana ya?
    Saya juga tertarik mengembangkan produk garam Indramayu. Tks

    • April 7, 2014 2:13 am

      mangga kang, kang casdi bisa merapat aja ke dinas perikanan bagian SPT bisa lgsg ketemu sama mba mutiara

  2. April 19, 2015 4:47 am

    saya dr dinas perindag kab. nias barat.
    ingin mengembangkan budi daya garam di daerah kami krn wilayah kami lebib 25% berada di pesisir pantai.
    mbak mutiara, apa sj peralatan yg dibutuhkan utk budi daya garam, trus gimana langkah memulai usaha pembuatan garam.
    mohon berkenan membantu kami utk pedoman pembuatan proposal.
    terimakasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: